Langkah Sunyi Irawati, Menyuarakan Aspirasi Perempuan dari Desa

  • 28 Feb 2026 17:56 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar - Di antara riuh ombak kawasan Ujung Pancu, Desa Lampage, sosok Irawati, S.Pd., melangkah tenang menjalani dua peran sekaligus: ibu rumah tangga dan pejabat gampong. Perempuan yang akrab disapa Ira ini kini dipercaya sebagai Tuhapet di desa tersebut, sebuah posisi strategis dalam struktur pemerintahan gampong.

Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 4, Irawati membuka ceritanya dengan rendah hati. Ia mengaku kesempatan hadir di radio menjadi pengalaman berharga baginya. Namun di balik canda dan tawanya, terselip keseriusan tentang pentingnya peran perempuan dalam pemerintahan desa.

Menurutnya, keterlibatan perempuan di gampong bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan kebutuhan nyata. Ia menilai cara pandang perempuan kerap berbeda dengan laki-laki dalam melihat persoalan kampung.

“Kadang pemikiran laki-laki dan perempuan tidak sama. Ada hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh laki-laki, tapi menjadi perhatian perempuan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pembahasan pembangunan tanggul desa dalam rapat di meunasah. Bagi sebagian pihak, tanggul mungkin sekadar infrastruktur penahan abrasi. Namun bagi perempuan, tanggul berarti perlindungan rumah, keselamatan keluarga, dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.

Selain itu, Irawati juga aktif menyuarakan kebutuhan program pemberdayaan perempuan, seperti posyandu dan kegiatan PKK. Menurutnya, banyak persoalan kesehatan ibu dan anak yang hanya benar-benar dipahami oleh perempuan.

“Posyandu itu memang identik dengan perempuan. Tapi kadang perempuan juga tidak sanggup menyampaikan semua aspirasinya. Di situlah peran kami sebagai wakil perempuan untuk menyuarakan kebutuhan anggaran dan program,” katanya.

Sebagai ibu rumah tangga, Irawati mengakui tantangan membagi waktu bukan hal mudah. Pekerjaan domestik tetap menjadi tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Namun dukungan suami dan keluarga menjadi kunci kelancarannya menjalankan tugas publik.

“Kalau di rumah sudah ada izin dan dukungan dari suami, insyaallah kita bisa membantu masyarakat dengan lancar,” tuturnya.

Bagi Irawati, perempuan tidak boleh ragu terlibat dalam pembangunan desa. Kehadiran mereka memastikan kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi fisik, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial dan kesejahteraan keluarga.

Dari ruang-ruang rapat sederhana di meunasah hingga kegiatan posyandu, langkah Irawati mungkin tampak sunyi. Namun melalui suaranya, aspirasi perempuan di Kecamatan Pekan Bada perlahan mendapat ruang dalam pengambilan keputusan.

Di gampong kecil itu, ia membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak yang memastikan pembangunan berjalan lebih inklusif dan berkeadilan.

Rekomendasi Berita