Bener Meriah Dorong Perempuan Gayo Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kopi

  • 15 Sep 2026 12:30 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Takengon - Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Bener Meriah mendorong perempuan Gayo mengambil peran lebih strategis dalam mengembangkan ekonomi berbasis kopi. Penguatan kapasitas, legalitas, manajemen, hingga akses pembiayaan dinilai penting agar perempuan tidak hanya terlibat dalam rantai produksi kopi, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

Dorongan tersebut disampaikan Kepala Bidang Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Bener Meriah, Hasra, S.Fil.I., M.A.P., dalam keterangannya, usai menyampaikan materi dalam pelatihan kewirausahaan yang digelar Aceh Women's for Peace Foundation (AWPF) di Meeting Room Grand Bayu Hill Hotel, Takengon, Senin, 14 September 2026.

Pelatihan yang bertajuk penguatan bisnis kopi itu diikuti 20 perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari petani kopi, pelaku usaha mikro, hingga pendamping komunitas. Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan peserta dalam mengelola rantai pasok dan bisnis kopi secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Hasra mengatakan perempuan Gayo memiliki posisi penting dalam rantai nilai kopi, mulai dari proses budidaya hingga pengelolaan manajemen usaha.

“Perempuan Gayo memegang andil besar dalam rantai nilai kopi, dari proses budidaya hingga pengelolaan manajemen usaha,” ujar Hasra dalam keterangannya.

Menurutnya, penguatan usaha perempuan tidak cukup hanya melalui pemberian modal. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan mengelola bisnis, memenuhi aspek legalitas, serta memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas akses pasar.

“Penguatan usaha perempuan bukan sekadar soal modal finansial. Pelaku usaha juga harus memperhatikan aspek legalitas, manajemen, dan digitalisasi pasar,” tegasnya.

Ia mengatakan pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan bagi pengembangan usaha mikro dan kecil. Dukungan tersebut, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Dalam aspek pembiayaan, Hasra mengingatkan pelaku usaha agar tidak menjadikan pinjaman semata-mata sebagai tambahan dana, tetapi menggunakannya secara produktif berdasarkan perencanaan bisnis.

“Setiap pinjaman modal harus dialokasikan secara produktif sesuai rencana bisnis yang jelas,” katanya.

Hasra memaparkan ada sejumlah skema pembiayaan bersubsidi pada 2026 yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha, di antaranya Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS) yang ditujukan untuk membantu kelompok masyarakat rentan membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Selain Hasra, pelatihan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus fasilitator Budi Arianto serta praktisi usaha kopi lokal, Rizkani dan Susilawati. Kehadiran sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, fasilitator, dan praktisi diharapkan memberikan perspektif yang lebih utuh kepada peserta dalam mengembangkan usaha kopi.

Melalui pelatihan tersebut, peserta didorong tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi mampu menyusun rencana bisnis yang berkelanjutan. Penguatan kapasitas perempuan diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat perekonomian lokal berbasis komoditas kopi.

Dengan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, dan peningkatan kapasitas usaha, perempuan Gayo diharapkan semakin mandiri dan mampu mengambil posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai kopi, termasuk pada sisi pengelolaan dan pengembangan bisnis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....