Dapur Makta Angkat Jajanan Tradisional Lewat Inovasi Modern
- 26 Agt 2025 17:13 WIB
- Banda Aceh
KBRN - Banda Aceh : Vita Walidaya, pemilik usaha kuliner Dapur Makta, menegaskan pentingnya menjaga cita rasa jajanan tradisional sambil terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Hal ini ia sampaikan dalam siaran UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (25/8/2025), dengan tema Menggali Cita Rasa Jajanan Tradisional.
Menurut Vita, usaha Dapur Makta lahir pada 2018 dari coba-coba membuat camilan untuk anak-anak. “Awalnya hanya berbagi dengan tetangga dan sahabat, lalu banyak yang menyarankan untuk dijual. Dari situ saya mulai menawarkan secara sederhana, bahkan door to door ke kantor-kantor,” jelasnya.
Namun perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Vita sempat menghadapi cobaan berat setelah kehilangan sang suami. Kondisi tersebut membuatnya harus mencari cara baru agar tetap bisa berjualan tanpa meninggalkan anak di rumah. Dukungan teman dan pemanfaatan media sosial menjadi jalan keluar. “Dengan Instagram, penjualan jauh lebih luas dan mudah. Konsumen bisa pesan langsung, dan produk kita lebih cepat dikenal,” tambahnya.
Dapur Makta kini dikenal dengan jajanan tradisional khas Aceh, seperti kuah pengat, lupis, serabi, kucumayang, hingga timpan yang menjadi oleh-oleh favorit wisatawan. Vita juga melakukan inovasi pada bentuk dan kemasan. Salah satunya adalah kuihku yang dibentuk menyerupai wortel atau labu, agar lebih menarik bagi generasi muda. “Kita tetap menjaga cita rasa asli, tapi tampilannya dibuat lebih modern dan higienis,” ujarnya.
Selain menjaga kualitas, Vita menekankan bahwa jajanan tradisional memiliki nilai budaya yang penting. “Jajanan tradisional adalah identitas kuliner kita. Banyak wisatawan mencari cemilan khas Aceh sebagai oleh-oleh, bahkan sampai ke Malaysia,” katanya.
Dalam siaran tersebut, Vita juga berharap pemerintah terus memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk tampil dalam berbagai event, sehingga produk lokal semakin dikenal. “Yang penting kuenya dibuat enak, tampil menarik, dan tetap menjaga keaslian rasa. Dengan begitu, tradisi kuliner kita bisa terus hidup dan berkembang,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....