Mabruq Workshop Hadirkan Sandal Khas Aceh Berkualitas Tinggi

  • 12 Agt 2025 14:40 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN – Banda Aceh : Dari sebuah meja kerja kecil untuk menjahit dan memperbaiki sandal, Muhammad Djafar kini menjelma menjadi penggerak UMKM kreatif di Aceh. Pemilik Mabruq Workshop itu berbagi kisah perjalanan usahanya dalam siaran UMKM Talks di Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (11/8/2025), dengan tema Membangun Identitas Lokal lewat Sandal dan Sepatu: Kisah Cut Abang dari Mabruq Workshop.

Djafar menceritakan, ide untuk memproduksi sandal muncul secara sederhana. Saat masih menerima jasa reparasi, seorang pelanggan bertanya apakah ia bisa membuat produk baru. Pertanyaan itu menjadi titik balik yang mendorongnya beralih dari sekadar memperbaiki menjadi memproduksi. “Awalnya saya berpikir, kalau bisa menjahit, pasti bisa memproduksi. Dari situlah saya mulai membuat sandal,” ujarnya.

Nama Mabruq dipilih karena berarti “keberkahan,” sebuah doa yang ia harapkan selalu menyertai usaha ini. Sementara itu, merek Cut Abang resmi diluncurkan pada 2020 setelah enam tahun berproses. Filosofi nama tersebut, menurut Djafar, erat dengan panggilan sayang dalam budaya Aceh, sehingga mudah diingat dan mengakar di hati masyarakat.

Bermodal awal sekitar Rp4 juta untuk cetakan dan bahan baku, serta dukungan penuh keluarga, Djafar mulai memproduksi sandal dengan mengandalkan keahlian desain yang sesuai tren pasar. Proses pembuatan setiap pasang membutuhkan waktu dua hari, dari desain, pemilihan bahan, pembuatan pola, hingga tahap finishing. Seluruh produk dikerjakan secara custom, dengan ukuran mulai 39 hingga 44, dan sebagian model flat untuk perempuan.

Pemasaran Cut Abang saat ini masih berfokus di Aceh, memanfaatkan media sosial seperti TikTok. Djafar berharap produk lokal bisa mendapat dukungan pemerintah, misalnya dengan dipasarkan di bandara atau pusat keramaian. Ia juga tengah menyiapkan inovasi baru dengan menggabungkan unsur budaya, seperti tenun Gayo, ke dalam desain sandal dan sepatu.

Selain untuk keuntungan pribadi, Mabruq Workshop juga hadir sebagai sarana pemberdayaan masyarakat sekitar. “Tujuan kami bukan hanya ekonomi, tapi juga membuka lapangan kerja untuk pemuda dan membuat masyarakat bangga dengan produk lokal,” tegas Djafar.

Tantangan yang dihadapi antara lain bahan baku yang sebagian besar masih didatangkan dari luar Aceh, serta persaingan dengan merek yang sudah lebih dikenal. Namun, ia optimistis brand lokal dapat bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional. “Saya ingin ketika orang mengenal Aceh, mereka juga mengenal Cut Abang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....