Pisang Sale Dhapue Shofiee Incar Pasar Internasional

  • 23 Jul 2025 20:13 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN – Banda Aceh : Di tengah derasnya arus modernisasi dan produk makanan instan, Lela Andriyanti pemilik UMKM Dhapue Shofie membuktikan bahwa kekayaan kuliner tradisional Aceh masih bisa menjadi sumber rezeki yang berkelanjutan. Lewat produk unggulan pisang sale, ia tak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menjaga warisan budaya daerah.

Dalam program UMKM Talks di RRI Banda Aceh, Senin (21/7/2025), Lela yang akrab disapa Bu Ella mengisahkan awal mula kiprahnya di dunia usaha. Ia memulai dengan mengelola galeri produk UMKM di Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 2013. Di sanalah ia menemukan bahwa pisang sale menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan.

“Dari tester yang kami sediakan, banyak wisatawan yang langsung jatuh cinta dan minta kami kirim ke luar daerah. Dari situlah saya sadar, produk ini bisa punya nilai jual yang besar, bahkan ke pasar internasional,” ujarnya.

Diberi nama Dhapue Shofie, usaha ini terinspirasi dari putrinya, Sofia Sabila, sekaligus menjadi semangat untuk menjaga tradisi kuliner Aceh. Pisang sale buatan Dhapue Shofie tidak digoreng sembarangan. Prosesnya dimulai dari pemilihan pisang wak mentah, kemudian dijemur 2 hingga 3 hari, baru digoreng dengan teknik khusus agar menghasilkan tekstur renyah yang disukai banyak kalangan.

“Kami tidak menggunakan bahan pengawet, dan sangat ketat soal kualitas. Jika ada yang berminyak, langsung kami singkirkan. Karena bagi saya, sekali orang kecewa, mereka tak akan kembali beli,” tegasnya.

Saat ini, Dhapue Sofie menjangkau pasar melalui toko oleh-oleh, media sosial, hingga reseller. Bu Ella juga merencanakan pembangunan rumah produksi yang sekaligus menjadi tempat edukasi wisata kuliner. Bahkan, produk pisang sale miliknya sudah menarik perhatian pembeli dari Malaysia.

“Saya ingin produk ini dikenal tidak hanya di Aceh, tapi juga membawa nama Aceh ke luar negeri. Bukan hanya sebagai pelaku usaha, tapi juga sebagai pelestari budaya,” kata Lela.

Lewat pendekatan tradisional yang dikemas modern, Dhapue Shofie menjadi contoh bahwa UMKM Aceh mampu mengolah kekayaan budaya menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....