Investasi Emas Aceh Bertahan di Era Digital
- 30 Okt 2025 09:13 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Di tengah maraknya berbagai instrumen investasi modern seperti saham dan kripto, investasi emas masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat Aceh. Tradisi ini telah mengakar kuat sejak lama dan kini tetap bertahan, bahkan semakin berkembang di era digital.
Raudhatul Jannah, Anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh Besar, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Rabu (29/10/2025). Mengungkapkan tren investasi emas di Aceh sebenarnya bukan hal baru. “Kalau tren emasnya sendiri itu sudah berlangsung cukup lama, apalagi di masyarakat Aceh. Hanya saja selama ini yang berkembang adalah bentuk investasi emas secara fisik,” ujarnya.
| Baca juga: Masyarakat Diminta Waspadai Investasi Bodong |
Raudhatul menjelaskan, sejak dahulu masyarakat Aceh lebih percaya menyimpan kekayaan dalam bentuk emas dibandingkan tabungan di bank. “Orang tua kita dulu memahami bahwa investasi yang paling aman itu emas, karena bisa langsung dijual di hari yang sama. Asetnya likuid dan mudah dijadikan uang tunai,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebiasaan membeli emas sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh. “Kalau zaman dulu, hasil panen atau gaji pegawai negeri disisihkan untuk membeli emas. Jadi sudah biasa, hampir setiap rumah di Aceh pasti punya emas, sekurang-kurangnya satu cincin. Bahkan semiskin-miskinnya masyarakat Aceh, tetap ada tabungan emasnya,” tutur Raudhatul.
Selain sebagai bentuk tabungan, emas juga memiliki nilai simbolis dalam adat Aceh. “Wanita Aceh dikenal gemar memakai emas. Dalam acara-acara adat, satu badan bisa berkilauan. Selain untuk perhiasan, emas juga digunakan sebagai mahar pernikahan. Jadi nilainya bukan hanya ekonomi, tapi juga budaya,” tambahnya.
Ketika dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti saham atau kripto, Raudhatul menilai emas memiliki keunggulan dari segi keamanan dan kestabilan nilai. “Emas itu aset paling aman dan minim risiko. Nilainya cenderung naik dari tahun ke tahun. Bahkan beberapa waktu lalu, harga emas di Aceh sempat mencapai Rp7.850.000 per mayam rekor tertinggi yang sempat viral di media sosial,” ujarnya.
Menurutnya, investasi di saham dan kripto membutuhkan pengetahuan dan kemampuan membaca tren pasar yang tidak semua orang miliki. “Kalau saham dan kripto, nilainya bisa naik dan turun drastis. Tapi kalau emas, lebih stabil. Masyarakat yang tidak punya banyak waktu belajar analisis pasar pun bisa berinvestasi emas dengan mudah,” terangnya.
Raudhatul menilai, naiknya kesadaran generasi muda terhadap investasi emas merupakan hal positif. “Anak muda sekarang sudah mulai paham pentingnya mengelola keuangan. Kalau dulu orang tua beli emas untuk mahar atau tabungan masa depan, sekarang generasi muda bisa memanfaatkan emas juga untuk investasi jangka panjang,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....