Literasi Keuangan Jadi Kunci Kemandirian Ekonomi Masyarakat Miskin
- 22 Apr 2025 20:44 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Kemandirian ekonomi bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan, tetapi juga bagaimana masyarakat, khususnya kelompok miskin, mampu mengelola keuangan dengan bijak. Hal tersebut disampaikan Ana Fitria, S.E., M.Sc., RSA, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam wawancara bersama RRI, Rabu (16/4/2025).
Menurut Ana, konsep kemandirian berarti tidak lagi tergantung pada pihak luar, termasuk bantuan dari pemerintah atau lembaga sosial. Namun, kemandirian itu tidak dapat dicapai tanpa pemahaman dasar tentang literasi keuangan.
“Dari survei yang ada, kita melihat bahwa masalah bukan hanya pada sisi pemasukan yang rendah, tetapi juga kurangnya pemahaman dalam mengelola keuangan. Ini yang jarang dibahas saat bicara soal kemandirian ekonomi,” jelas Ana.
Ia menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi hal krusial bagi masyarakat miskin. Ketika mereka memperoleh dana, baik dari hasil kerja maupun bantuan, mereka harus mampu menyusun anggaran, mengidentifikasi kebutuhan prioritas, serta menyisihkan sebagian untuk tabungan atau kebutuhan darurat.
“Yang paling utama adalah ketika seseorang sudah punya uang, mereka tahu ke mana uang itu akan dibawa. Jangan sampai kalap belanja. Jika ada sisa, sisihkan untuk kondisi tak terduga,” tambahnya.
Ana juga menyoroti tantangan akses permodalan yang sering dihadapi masyarakat miskin. Namun ia menyebutkan bahwa di Aceh terdapat lembaga keuangan syariah yang bisa menjadi alternatif selain bank umum, serta keberadaan Baitul Mal yang kini aktif memberikan bantuan produktif di Banda Aceh.
“Baitul Mal sudah mulai memberi bantuan produktif, bukan konsumtif. Ini bentuk dorongan agar masyarakat bisa mengelola dana tersebut dan menghasilkan sesuatu yang produktif,” ujar Ana.
Untuk generasi muda, ia mengingatkan agar tidak terjebak pada budaya konsumtif dan tren ikut-ikutan yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Setiap orang punya kebutuhan dan penghasilan yang berbeda. Jangan sampai karena ikut-ikutan, justru menambah jumlah masyarakat miskin,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....