Kinerja Perdagangan Aceh Positif, Surplus USD105,4 Juta

  • 18 Sep 2026 17:43 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mencatat surplus sebesar USD105,40 juta atau sekitar Rp1,81 triliun sepanjang Semester I 2026. Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor sebesar USD366,66 juta, sementara impor tercatat USD261,26 juta pada periode Januari hingga Juni 2026.

Berdasarkan Laporan Komoditas Ekspor dan Impor Provinsi Aceh Semester I 2026 yang dirilis oleh Bea Cukai Aceh, total berat bersih barang ekspor mencapai 7,09 juta ton. Dari sisi komoditas, produk mineral masih mendominasi ekspor dengan nilai devisa USD261,93 juta atau sekitar 71,4 persen dari total ekspor. Selanjutnya sektor perkebunan menyumbang USD64,51 juta atau 17,6 persen, sedangkan Crude Palm Oil (CPO) mencapai USD29,74 juta atau 8,1 persen.

Batu bara menjadi komoditas utama ekspor Aceh dengan nilai devisa USD261,59 juta. Ekspor batu bara tersebut dilakukan oleh PT Mifa Bersaudara, PT Bara Energi Lestari, dan PT Media Djaya Bersama. PT Mifa Bersaudara menjadi eksportir terbesar dengan kontribusi 72,87 persen, disusul PT Bara Energi Lestari 21,33 persen dan PT Media Djaya Bersama 5,79 persen. Seluruh batu bara tersebut berasal dari Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya, dengan Aceh Barat menyumbang USD205,79 juta dan Nagan Raya USD55,80 juta.

"Capaian tersebut menunjukkan kinerja positif perdagangan luar negeri Aceh. Laporan komoditas ekspor dan impor diharapkan dapat menjadi referensi untuk melihat perkembangan komoditas sekaligus potensi perdagangan daerah," kata Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Aceh, Leni Rahmasari.

India menjadi negara tujuan utama ekspor batu bara Aceh dengan kontribusi 83,93 persen, diikuti China, Thailand, dan Vietnam. Sementara itu, sektor perkebunan didominasi komoditas kopi, teh, maté, dan rempah-rempah yang menyumbang 90,78 persen dari devisa sektor tersebut. Ekspor CPO tercatat sekitar 25,67 ribu ton dengan nilai USD29,74 juta, dilakukan PT Agro Murni dengan Singapura sebagai negara pembeli dan pengiriman fisik menuju sejumlah pelabuhan di India.

Kinerja ekspor juga meningkat pada Kuartal II 2026. Nilai devisa ekspor mencapai USD195,18 juta atau naik 13,82 persen dibandingkan Kuartal I, meskipun berat bersih ekspor turun 7,19 persen. Secara bulanan, Juni menjadi periode dengan nilai ekspor tertinggi, mencapai USD85,31 juta atau meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei. Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan Harga Batu Bara Acuan (HBA) dan bertambahnya berat bersih ekspor.

Di sisi impor, propana dan butana mendominasi dengan kontribusi gabungan sekitar 97,96 persen dari total devisa impor. Nilai impor butana mencapai USD132,56 juta dan propana USD123,36 juta. Amerika Serikat menjadi negara asal utama kedua komoditas tersebut dengan nilai sekitar USD237 juta atau sekitar 93 persen.

Berdasarkan negara pemasok, Amerika Serikat berkontribusi sekitar 37 persen, Uni Emirat Arab 32 persen, Singapura 18 persen, serta Aljazair dan Norwegia masing-masing 7 persen. Aktivitas impor tertinggi terjadi pada Mei 2026 dengan nilai devisa USD89,16 juta dan berat bersih mencapai 122,16 ribu ton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....