Festival QRIS 2026 Buka Akses Ekonomi bagi Penyandang Disabilitas

  • 18 Agt 2026 14:31 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Festival QRIS 2026 menjadi ruang bagi penyandang disabilitas menunjukkan kemampuan dan memasarkan hasil karya. Kegiatan tersebut berlangsung 11 hingga 17 Agustus 2026 di Gedung Pasar Atjeh Baru, Banda Aceh.

Pada Minggu, 16 Agustus 2026, FKM BKA YWU bersama komunitas disabilitas dan SLB menghadirkan stan produk. Sebanyak 21 jenis produk dipasarkan, mulai dari lukisan, aksesori, makanan, hingga pakaian Aceh.

Koordinator stan sekaligus Program Manager FKM BKA YWU, T. Putri Melza Chamela, mengatakan kegiatan tersebut membuka ruang ekonomi yang lebih luas. Menurutnya, penyandang disabilitas dapat menjadi pelaku ekonomi ketika mendapat kesempatan memasarkan produk dan berinteraksi dengan konsumen.

“Ruang ekonomi harus menjadi ruang yang dapat diakses semua orang,” ujar Putri Melza.

Ia menjelaskan produk, dan memperoleh apresiasi dinilai menjadi bentuk nyata inklusi ekonomi.Keterlibatan tersebut juga memberikan kesempatan bagi perempuan penyandang disabilitas untuk menjalankan usaha secara mandiri. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut memproduksi, menawarkan, dan memasarkan hasil karya kepada masyarakat.

Selain stan produk, FKM BKA YWU turut membuka booth karier untuk memperkenalkan potensi dan keterampilan penyandang disabilitas. Ruang tersebut menjadi sarana memperluas akses terhadap pekerjaan, pelatihan, informasi, jejaring, dan kesempatan menunjukkan kemampuan.

Pada sore harinya, FKM BKA YWU mengisi talkshow yang membahas pengalaman perempuan penyandang disabilitas dalam memperoleh kesempatan. Pembahasan tersebut mencakup kemandirian, pengembangan keterampilan, serta partisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Rangkaian kegiatan juga memberikan ruang ekspresi bagi anak penyandang disabilitas melalui fashion show pada malam hari. Sebanyak 14 anak mendapat kesempatan tampil di ruang publik untuk membangun kepercayaan diri dan mengurangi stigma.

Menurut FKM BKA YWU, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja yang lebih luas dalam mengurangi diskriminasi dan hambatan struktural. Organisasi itu menggunakan pendekatan berbasis komunitas, penguatan kapasitas, penelitian partisipatif, serta advokasi kebijakan.

Kerja tersebut juga sejalan dengan agenda FKM BKA YWU dalam SDG 5, SDG 8, dan SDG 11. Ketiganya berkaitan dengan kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta kota dan permukiman inklusif.

Melalui kerja bersama APWLD, FKM BKA YWU juga mendorong perempuan penyandang disabilitas terlibat dalam monitoring dan dialog kebijakan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat suara mereka dalam isu pekerjaan, aksesibilitas, layanan publik, dan pengambilan keputusan.

Keterlibatan di Festival QRIS 2026 menjadi salah satu bentuk penerapan agenda tersebut dalam ruang publik. FKM BKA YWU menilai inklusi tidak cukup dengan menghadirkan penyandang disabilitas, tetapi juga harus memberikan ruang untuk bekerja, berkarya, berusaha, dan menyampaikan pendapat.

“Bagi kami, inklusi bukan hanya tentang memberi ruang untuk hadir,” kata Putri Melza.

Ia menegaskan seseorang juga harus memiliki kesempatan menggunakan ruang tersebut, menunjukkan kemampuan, memperoleh manfaat, dan ikut menentukan perubahan.

Melalui festival tersebut, FKM BKA YWU mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan ekonomi tidak berhenti pada satu kegiatan. Akses terhadap pasar, pekerjaan, keterampilan, teknologi digital, layanan publik, dan ruang pengambilan keputusan perlu menjadi bagian pembangunan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....