Solusi Bangun Andalas Ungkap Penyebab Semen Langka di Aceh

  • 10 Agt 2026 18:43 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kebutuhan semen di Aceh meningkat tajam seiring berlangsungnya proses pemulihan pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah pada November 2025. Kondisi tersebut turut memengaruhi ketersediaan semen di pasaran karena peningkatan permintaan terjadi bersamaan dengan sejumlah program pembangunan pemerintah.

General Manager PT Solusi Bangun Andalas (SBA), R. Adi Santosa, mengakui adanya peningkatan kebutuhan semen di Aceh. Menurutnya, industri semen memiliki keterbatasan dalam meningkatkan kapasitas produksi secara cepat ketika terjadi lonjakan permintaan.

“Kalau dari isu yang beredar di masyarakat ada kelangkaan semen. Memang nyatanya seperti itu. Karena semen itu kan industri yang statis, tidak gampang menaikkan volume,” kata Adi dalam dialog bersama RRI Banda Aceh, Kamis 6 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sebelum bencana terjadi, permintaan semen di Aceh relatif stabil. Namun, kebutuhan meningkat signifikan setelah pemerintah dan masyarakat mulai melakukan pembangunan serta perbaikan berbagai fasilitas yang terdampak bencana.

Selain kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, permintaan semen juga meningkat karena sejumlah program pemerintah lainnya, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Sekolah Rakyat.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai melakukan perbaikan rumah secara mandiri setelah kondisi cuaca membaik dan aktivitas ekonomi kembali berjalan. Kondisi tersebut semakin mendorong peningkatan permintaan semen di sejumlah wilayah Aceh.

“Di waktu yang bersamaan mereka butuh semen. Sebatas yang bisa kita lakukan adalah kita berproduksi semaksimal mungkin dan itu yang kita distribusikan ke pasar,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan, SBA juga berkoordinasi dengan induk perusahaannya, Semen Indonesia Group, guna mendapatkan tambahan pasokan dari pabrik lain di luar Aceh.

Menurut Adi, dukungan pasokan tersebut antara lain berasal dari pabrik di Padang dan Jawa Barat untuk membantu memenuhi kebutuhan semen di Aceh.

“Kadang kita dapat support dari Padang, kadang dari Narogong, Jawa Barat untuk membantu mengatasi kelangkaan semen di Aceh,” katanya.

Selain meningkatkan pasokan, SBA juga meminta distributor memprioritaskan pengiriman semen ke Aceh dan memastikan distribusinya merata antardaerah. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya ketimpangan pasokan, ketika satu wilayah memiliki stok cukup sementara daerah lain mengalami kekurangan.

Adi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan para distributor agar distribusi semen dilakukan secara proporsional sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“Kami minta teman-teman distributor itu baginya juga rata, biar kelangkaan itu tidak spot. Jangan kesannya kok ini dapat banyak, saya enggak dapat,” ujarnya.

Ia mengakui distribusi semen ke sejumlah wilayah juga menghadapi kendala akibat kondisi infrastruktur pascabencana. Truk pengangkut semen yang keluar dari pabrik terkadang harus melakukan pemindahan muatan ke kendaraan berukuran lebih kecil ketika menghadapi jembatan yang belum mampu dilalui kendaraan dengan beban besar.

Kondisi tersebut membuat waktu distribusi menjadi lebih panjang dan meningkatkan biaya pengiriman.

Meski demikian, Adi memastikan kegiatan operasional pabrik SBA saat ini berjalan lancar. Perusahaan bahkan meningkatkan jam operasional untuk memaksimalkan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar.

“Sekarang sudah bisa sampai 1.800 ton per hari keluar,” katanya.

Menurut Adi, peningkatan kapasitas pengiriman tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan untuk menjaga ketersediaan semen di Aceh di tengah tingginya kebutuhan untuk pemulihan pascabencana dan pembangunan berbagai program pemerintah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....