Ukiran Aceh Jadi Inspirasi Karya Interior Bernilai Ekonomi

  • 16 Jun 2026 22:19 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Seni ukir Aceh terus menunjukkan potensinya sebagai inspirasi karya interior yang bernilai estetika dan ekonomi. Kekayaan motif tradisional dinilai mampu memperkuat identitas budaya Aceh di tengah perkembangan desain modern.

Owner Artistic Interior, Ibnu Kasab, mengatakan usaha yang dirintisnya lahir dari kegelisahan terhadap memudarnya identitas budaya Aceh. Ia mulai mengembangkan produk interior berciri khas Aceh sejak 2014 melalui berbagai riset dan dokumentasi ornamen tradisional.

Menurutnya, banyak motif ukiran Aceh yang belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, ia bersama sejumlah akademisi melakukan penelitian terhadap ukiran rumah adat dan batu nisan kuno.

“Budaya Aceh sudah mulai kehilangan identitasnya. Karena itu kami berinisiatif menghadirkan interior yang memiliki ciri khas keacehan,” ujarnya dalam Dialog UMKM Talks RRI Banda Aceh, Senin, 15 Juni 2026.

Ibnu menjelaskan ukiran Aceh memiliki karakter berbeda dibanding daerah lain. Motifnya banyak terinspirasi dari tumbuhan, nilai keislaman, serta pesan moral yang diwariskan leluhur.

Ia menyebut motif sulur, pucok rebung, awan meucanek, dan putik bungong menjadi ornamen yang paling diminati masyarakat. Motif tersebut kini diaplikasikan pada pintu rumah, furnitur, hingga panel dinding.

“Ukiran Aceh berangkat dari nasihat, ayat, dan hadis. Tujuannya menyampaikan pesan melalui simbol-simbol yang indah,” katanya.

Dalam proses penciptaan karya, Artistic Interior mengawali dengan riset dan pengkajian ilmiah. Setelah itu, ide dituangkan dalam sketsa sebelum diwujudkan menjadi produk interior.

Ibnu mengatakan sebagian besar proses pengerjaan masih menggunakan teknik ukir tradisional. Metode tersebut dipertahankan karena memiliki nilai seni tinggi dan menghasilkan karya yang lebih eksklusif.

Selain memproduksi furnitur, pihaknya juga menerima pesanan khusus ornamen pintu khas Aceh. Produk tersebut menjadi salah satu yang paling banyak diminati pelanggan.

“Banyak masyarakat ingin menghadirkan identitas Aceh di rumah mereka. Terutama melalui pintu dan ornamen khas Aceh,” ujarnya.

Ia optimistis seni ukir Aceh mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. Menurutnya, peluang pasar masih sangat besar karena masyarakat mulai kembali menghargai identitas budayanya.

Ke depan, Ibnu berencana memperluas promosi melalui pameran, workshop, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi. Upaya itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sekaligus melahirkan generasi baru perajin ukir Aceh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....