Populasi Udang Windu Aceh Timur Tertekan, Ini Kata Akademisi
- 18 Apr 2026 16:16 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Populasi udang windu (Penaeus monodon) di perairan Aceh Timur menghadapi tekanan serius akibat tangkapan berlebih dan degradasi habitat. Kondisi ini dinilai mengancam keberlanjutan salah satu komoditas perikanan unggulan di daerah tersebut.
Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Adrian Damora, dalam wawancara bersama RRI, Sabtu 18 April 2026, menegaskan bahwa penguatan tata kelola berbasis konservasi dan budidaya bertanggung jawab menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan udang windu.
Menurut Adrian, persoalan yang dihadapi bersifat menyeluruh dari hulu hingga hilir. Di sisi hulu, proporsi indukan udang yang berhasil sampai ke lokasi pendaratan masih rendah, yakni kurang dari 30 persen, akibat keterbatasan fasilitas penanganan pascatangkap.
“Di hilir, pembenihan juga belum sepenuhnya menerapkan standar Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan sertifikasi benih,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga tantangan utama dalam pengelolaan udang windu di Aceh Timur. Pertama, penurunan stok indukan di alam. Hasil kajian WWF-Indonesia menunjukkan udang windu hanya menyumbang sekitar 30 persen dari total tangkapan nelayan, sementara sisanya terdiri dari jenis udang lain dan ikan demersal.
Kedua, ancaman terhadap habitat asuhan. Ekosistem mangrove sebagai lokasi pembesaran alami udang windu terus mengalami tekanan. Pemerintah Aceh sendiri telah menetapkan pencadangan kawasan konservasi perairan melalui Keputusan Gubernur Aceh Nomor 500.5.1/223/2024 yang mencakup wilayah Aceh Timur.
Ketiga, keterbatasan kapasitas pembenihan dan budidaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Gampong Payah Lipah, Peureulak pada Juli 2024 menunjukkan bahwa sosialisasi CPIB serta restocking benih mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya.
Sebagai solusi, Adrian mendorong penguatan kelembagaan nelayan melalui penerapan alat tangkap selektif dan perlindungan indukan di laut. Selain itu, integrasi antara konservasi dan budidaya perlu dilakukan melalui restocking indukan hasil budidaya untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.
Ia juga mengusulkan pengembangan tambak percontohan berstandar internasional yang terintegrasi dari hatchery hingga pasar, sehingga Aceh Timur tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku.
Lebih lanjut, Adrian menekankan pentingnya pendekatan psikososial dalam mendorong adopsi CPIB oleh pembudidaya. Menurutnya, perubahan perilaku membutuhkan pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan sesaat.
“Adopsi CPIB itu soal perubahan perilaku. Butuh pendampingan berkelanjutan,” tegasnya.
Adrian mengingatkan, masa depan udang windu di Aceh Timur sangat bergantung pada kemampuan semua pihak menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Kalau hanya mengejar volume tangkapan hari ini, 10 tahun lagi kita bisa kehilangan plasma nutfah udang windu,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....