Cuaca Ekstrem Landa Aceh, BMKG Ungkap Penyebab Utama

  • 26 Nov 2025 23:14 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Provinsi Aceh dalam beberapa hari terakhir terus dilanda hujan lebat disertai cuaca ekstrem yang intens, sehingga berdampak pada meningkatnya kewaspadaan masyarakat di berbagai wilayah. Hujan deras yang mengguyur hampir tanpa jeda telah memicu potensi bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, banjir bandang, genangan air hingga longsor di sejumlah titik rawan. Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang terus melakukan pemantauan mendetail terhadap perkembangan cuaca di Aceh.

Dalam dialog khusus yang digelar di Pro 1 RRI Banda Aceh pada Rabu (26/11/2025), Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nasrol Adil, menjelaskan secara langsung bahwa intensitas hujan yang turun saat ini sudah masuk kategori ekstrem, bahkan melebihi standar curah hujan normal yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

“Ya kondisi Aceh dalam beberapa hari terakhir memang diguyur hujan yang lebat hingga cuaca ekstrem, ekstrem dikatakan karena melebihi kecepatan 150 mm,” ujar Nasrol Adil, Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah kondisi biasa dan harus menjadi perhatian bersama.

Lebih lanjut, Nasrol mengungkapkan bahwa beberapa wilayah di Aceh tercatat mengalami curah hujan yang sangat tinggi, bahkan berada di atas batas ambang ekstrem yang telah ditetapkan oleh BMKG. Ia merinci bahwa pantauan terbaru menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada sejumlah daerah yang sebelumnya sudah termasuk kategori rawan bencana hidrometeorologi.

“Di tanggal 19 dan 20 itu kami monitoring wilayah Pasiraja itu atau Aceh Selatan mencapai 163 mm,” jelasnya, menekankan bahwa tingkat curah hujan tersebut sudah sangat berpotensi menimbulkan bencana apabila berlangsung terus-menerus dalam beberapa hari berikutnya.

Tidak hanya intensitas hujan yang tinggi, Nasrol juga memaparkan adanya fenomena atmosfer lain yang turut memperburuk kondisi cuaca di Aceh. Ia menjelaskan bahwa pada tanggal 21 November, BMKG mendeteksi adanya gangguan tekanan udara di kawasan perairan timur Aceh yang berdampak besar pada pembentukan cuaca ekstrem.

“Di tanggal 21 itu juga kami monitoring adanya daerah tekanan rendah terjadi di Selat Malaka, nah tekanan rendah itu terus terdepresi sehingga menjadi bibit siklon,” tambahnya. Bibit siklon tersebut, meskipun belum berkembang menjadi siklon tropis penuh, tetap memberikan dampak signifikan berupa peningkatan curah hujan dan terbentuknya awan-awan konvektif dalam jumlah besar.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama warga di wilayah yang sering terdampak banjir dan longsor. Pihaknya menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga seluruh elemen masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi dan tidak terpancing oleh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kondisi atmosfer yang masih labil, koordinasi lintas sektor baik pemerintah daerah, BPBD, maupun unsur masyarakat dinilai sangat penting untuk meminimalisir dampak yang mungkin timbul.

Dengan meningkatnya pola cuaca ekstrem ini, BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi dan peringatan dini cuaca secara berkala. Masyarakat diminta untuk tetap tenang, berhati-hati, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala kemungkinan perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....