Buku MemoryGraph Jaga Ingatan Bencana
- 28 Mar 2026 18:59 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Buku MemoryGraph Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto hadir sebagai upaya memperkuat ingatan kolektif masyarakat terhadap bencana melalui pendekatan visual yang sederhana namun bermakna. Buku ini mengajak masyarakat memahami perubahan lanskap sebagai bagian dari pengalaman hidup yang tidak boleh dilupakan.
Pendekatan utama dalam buku ini adalah repeat photography, yaitu membandingkan foto masa lalu dengan kondisi terkini di lokasi yang sama. Metode ini dinilai mampu memperlihatkan secara nyata perubahan lingkungan sekaligus menghadirkan kembali memori yang tersimpan di dalamnya.
Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center, Syamsidik, menekankan bahwa ingatan terhadap bencana perlu terus dijaga agar tidak hilang seiring waktu. Menurutnya, buku ini menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat.
“Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung semakin melupakan kejadian bencana besar, terutama seiring pergantian generasi. Buku ini menjadi salah satu upaya penting dalam membangun safety culture,” ujarnya pada acara Peluncuran Buku dan Diskusi Publik pada Kamis, 26 Maret 2026.
Dari sisi konsep, MemoryGraph tidak hanya berbicara tentang dokumentasi visual, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam proses pencatatan sejarah. Masyarakat diajak untuk menjadi bagian dari proses merekam perubahan yang terjadi di lingkungan mereka sendiri.
Penggagas MemoryGraph di Aceh, Yoshimi Nishi, menjelaskan bahwa lanskap menyimpan lebih dari sekadar perubahan fisik. Ia menyebutkan bahwa setiap ruang memiliki cerita dan jejak kehidupan yang penting untuk dipahami lintas generasi.
“Lanskap tidak hanya merepresentasikan ruang fisik, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan dan ingatan masyarakat. Melalui pendekatan visual, hubungan itu bisa dipahami lebih utuh,” katanya.
Selain itu, buku ini juga menekankan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga kehilangan memori kolektif. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah, Alfi Rahman, yang melihat pentingnya dokumentasi sebagai bentuk menjaga ingatan bersama.
“Bencana bukan hanya menyebabkan kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan memori. Lanskap merupakan penyimpan ingatan kolektif yang perlu dijaga dan didokumentasikan,” jelasnya.
Buku MemoryGraph juga dirancang sebagai panduan praktis yang dapat digunakan dalam pendidikan, penelitian, hingga kegiatan pengabdian masyarakat. Pendekatan ini membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari perspektif kearsipan, arsiparis Arsip Nasional Republik Indonesia, Eka Husnul Hidayati, menilai metode ini mampu menghidupkan kembali arsip agar lebih relevan. Arsip tidak lagi hanya disimpan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan masyarakat.
“Arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga perlu dihidupkan kembali dalam pengalaman masyarakat agar tetap relevan dan bermakna,” ujarnya.
Melalui buku ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami perubahan yang terjadi di sekitar mereka, tetapi juga lebih siap menghadapi risiko bencana di masa depan. MemoryGraph menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus pengingat bahwa ingatan adalah bagian penting dari ketahanan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....