Scroll Medsos Tanpa Henti, Begini Dampaknya!
- 30 Jan 2026 21:26 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, kebiasaan scrolling tanpa henti justru dapat memicu dampak psikologis yang serius, mulai dari kelelahan mental hingga kecanduan gawai. Fenomena ini banyak dialami generasi muda, meski sebenarnya dapat terjadi pada semua kalangan usia.
Founder dan Pengajar di Aceh Flexi School, Esti Wulansari, dalam dialog interaktif Obrolan Seru Santai Islami (OSSI), Kamis (22/1/2026) menilai penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan burnout dan adiksi digital. Kondisi tersebut membuat seseorang sulit lepas dari ponsel, bahkan merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial. “Kadang kita merasa gadget seperti ‘manggil-manggil’. Itu tanda sudah ada ketergantungan. Kalau tidak berhenti scrolling, kita bisa mengalami kelelahan mental tanpa sadar,” ujarnya.
Menurut Esti, kebiasaan doom scrolling atau mengonsumsi konten secara cepat tanpa mencerna informasi juga berdampak pada kemampuan berpikir. Otak menjadi terbiasa menerima hal-hal instan sehingga fokus menurun. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti membaca buku selama lima menit pun terasa sulit. “Kita jadi dangkal dalam memproses informasi. Itu sinyal bahwa otak butuh jeda,” katanya.
Ia menjelaskan, detoks media sosial perlu dilakukan ketika penggunaan sudah memengaruhi kesehatan mental. Beberapa tanda peringatan antara lain munculnya kecemasan saat tidak membuka media sosial, fear of missing out (FOMO), serta rasa gelisah berlebihan. Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial juga bisa memicu rasa tidak percaya diri dan insecure.
“Awalnya mungkin ingin terinspirasi, tapi malah jadi membandingkan hidup sendiri secara negatif. Muncul perasaan tidak cukup baik atau merasa hidup orang lain selalu lebih bahagia. Kalau sudah seperti itu, artinya media sosial bukan lagi sehat untuk kita,” jelas Esti.
Karena itu, Esti menyarankan masyarakat untuk mulai memberi jeda pada penggunaan gawai, seperti membatasi waktu layar, mengatur jam bebas media sosial, atau menggantinya dengan aktivitas produktif. “Detoks bukan berarti berhenti total, tapi memberi ruang bagi otak untuk reset. Dengan begitu, kita bisa kembali menggunakan media sosial secara lebih sadar dan sehat,” tutupnya.