Kerelawanan Jembatan Kemanusiaan di Tengah Bencana

  • 29 Jan 2026 21:10 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Ketertarikan generasi muda untuk terjun ke dunia kerelawanan kerap berangkat dari panggilan hati, meski dihadapkan pada kenyamanan untuk tetap berada di rumah. Hal inilah yang dirasakan Nabila Amira Septiana, Public Relations Komunitas Turun Tangan Aceh, yang memilih terjun langsung ke lapangan meski harus menghadapi panas, lelah, dan jarak jauh dari rumah.

Nabila dalam dialog interaktif Cek Cerita Kamu, Senin (26/1/2026) mengaku ketertarikannya menjadi relawan sudah tumbuh sejak kecil. “Dari kecil saya memang suka nonton film-film action dan punya keinginan bergabung dengan PMI. Tapi saya tidak terlalu tertarik di bidang kesehatan,” ujarnya. Menurutnya, kerelawanan tidak selalu harus berada di ranah medis, sehingga Komunitas Turun Tangan menjadi wadah yang sesuai dengan minatnya.

Ia menjelaskan alasan pribadi mengapa tidak memilih jalur kesehatan. “Kalau di kesehatan itu saya merasa terbebani. Ketika tidak berhasil menyembuhkan orang, rasanya seperti menyalahkan diri sendiri. Padahal kesembuhan itu datangnya dari Allah SWT,” kata Nabila. Perasaan bersalah itulah yang membuatnya lebih memilih bergerak di kerelawanan sosial.

Namun, perjalanan sebagai relawan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Nabila menceritakan pengalaman terbarunya saat terlibat dalam kegiatan pembersihan sekolah terdampak banjir di Kabupaten Bireuen. “Waktu itu kami hanya beranggotakan enam orang, jauh dari perkiraan awal yang sekitar 40 orang,” ujarnya. Banyak relawan berhalangan hadir karena berbagai kondisi, mulai dari urusan keluarga hingga kewajiban akademik.

Dalam kegiatan tersebut, tim hanya mampu membersihkan ruang kelas dan toilet sekolah. “Gudang dan perpustakaan belum sempat kami bersihkan karena keterbatasan tenaga dan alat,” jelas Nabila. Kondisi di lapangan pun lebih sulit dari perkiraan, karena lumpur yang dibersihkan ternyata masih basah dan mengandung banyak air di bagian dalam.

“Kami kira lumpurnya hanya satu sampai dua meter, ternyata lebih dalam. Airnya tidak bisa mengalir karena semua saluran tertutup lumpur, jadi di satu sisi dikeruk, di sisi lain masuk lagi,” tutur Nabila. Meski demikian, ia menegaskan pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi para relawan untuk lebih siap menghadapi tantangan di lapangan ke depannya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....