Cerita Penyintas Tsunami, Kita Belajar Bertahan dan Bangkit
- 30 Des 2025 23:15 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Aceh hadir sebagai wadah kolaborasi berbagai lembaga dan organisasi masyarakat pasca bencana tsunami 2004. Forum ini dibentuk untuk menghimpun elemen yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, lingkungan, pendidikan, hingga kebencanaan agar dapat berperan aktif dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Aceh.
Wakil Ketua I Forum PRB Aceh, M. Dedy Jumaidy, dalam Podcast Kuphie Sareng yang disiarkan di Kanal YouTube RRI Banda Aceh, Senin (29/12/2025) mengatakan forum tersebut hingga kini tetap aktif melakukan berbagai kegiatan edukasi kebencanaan, baik di sekolah, kampus, maupun langsung di tengah masyarakat. “Ilmu dan pengalaman yang kami peroleh di lapangan maupun di lingkungan akademik kami bawa kembali ke masyarakat agar kesiapsiagaan bencana bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.
Menurut Dedy, Forum PRB Aceh bersifat terbuka dan melibatkan banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Lembaga-lembaga yang selama ini fokus pada isu lingkungan, sosial, dan kebencanaan bergabung dalam satu forum untuk memperkuat koordinasi dan sinergi. “Forum ini memang berskala Aceh, sehingga partisipasi organisasi yang aktif di isu kebencanaan sangat besar,” katanya.
Dedy juga membagikan pengalamannya saat bencana tsunami 26 Desember 2004 terjadi. Saat itu, ia masih berada di Medan dan tengah mengantar orang tuanya kembali ke Aceh. “Kami di Medan ikut merasakan guncangan yang luar biasa. Bahkan mobil yang saya bawa sudah tidak bisa berjalan normal karena digoyang sangat keras,” kenangnya.
Ia menuturkan, keterbatasan informasi saat itu membuat masyarakat Aceh di luar daerah diliputi kecemasan. Akses komunikasi terputus dan pemberitaan media masih sangat minim. “Informasi tentang Banda Aceh benar-benar blank. Kami hanya melihat tayangan Meulaboh, sehingga membayangkan kondisi Banda Aceh pasti jauh lebih parah,” ujar Dedy, yang juga menjabat sebagai Sekjen IKAMIK USK dan praktisi kebencanaan.
Tiga hari setelah tsunami, Dedy akhirnya tiba di Banda Aceh bersama bantuan yang dihimpun melalui organisasi mahasiswa Aceh di Medan. Pemandangan kehancuran yang ia saksikan meninggalkan kesan mendalam. “Sepanjang jalan air mata terus mengalir melihat kondisi saat itu. Pengalaman inilah yang menguatkan komitmen saya untuk terus terlibat dalam kerja-kerja kebencanaan hingga hari ini,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....