Cagar Budaya Hidup, Sejarah Menjadi Jalan Masa Depan
- 26 Des 2025 17:30 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Cagar budaya kerap dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang membosankan dan tak relevan dengan kehidupan masa kini. Namun anggapan tersebut, menurut Penggiat Budaya sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Aceh Tengah, Azman, muncul karena banyak orang belum benar-benar terlibat langsung dalam dunia pelestarian cagar budaya.
Azman dalam Podcast Kuphie Sareng yang disiarkan di Kanal YouTube RRI Banda Aceh, Rabu (25/12/2025) menuturkan, persepsi tentang cagar budaya akan berubah ketika seseorang mulai “nyemplung” dan terlibat di dalamnya. “Awalnya memang terasa seperti hanya berurusan dengan benda-benda lama, bangunan, atau struktur semata. Tapi begitu dijalani, justru banyak hal menarik yang didapatkan dan terasa sangat asyik,” ujarnya.
Ia mengaku telah menekuni bidang ini sejak 2017 dan merasa ingin terus berkarya di ranah cagar budaya hingga sepanjang hayat. Menurut Azman, bekerja di lingkungan cagar budaya bukan sekadar menjaga benda mati, melainkan merawat nilai dan makna yang hidup di dalamnya. Rutinitas yang dijalani selama hampir delapan tahun justru membuatnya semakin yakin bahwa pelestarian warisan budaya adalah pilihan hidup yang bermakna, bahkan ketika dimulai sejak usia muda.
“Ketika kita bercerita sejarah, berarti kita sedang memulai masa depan,” kata Azman. Ia menjelaskan, masyarakat saat ini terlalu sibuk mencari jalan keluar tanpa pernah mencoba mencari “jalan masuk” untuk memahami akar persoalan. Dengan mempelajari sejarah, manusia dapat mengenali identitas, jati diri, dan kepribadiannya sebagai fondasi untuk menyusun masa depan yang lebih sistematis.
Ia menegaskan bahwa tanpa pemahaman sejarah, sebuah masyarakat akan kesulitan menata arah hidupnya. “Dengan mengetahui sejarah, kita tahu siapa diri kita. Dari situlah masa depan bisa dirancang. Tanpa sejarah, masa depan akan kehilangan pijakan,” ujarnya.
Azman juga menekankan bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang mati dan berhenti di museum. “Sejarah itu living heritage, sesuatu yang hidup. Bahkan perjalanan hidup kita sehari-hari adalah bagian dari sejarah, dari kapan kita belajar makan, menulis, hingga membaca,” katanya. Ia mencontohkan pengalaman historis Aceh, termasuk masa-masa penjajahan, sebagai pelajaran penting agar generasi hari ini tidak terputus dari nilai-nilai perjuangan dan kebesaran masa lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....