Makna Self Love dalam Perspektif Psikologi dan Islam
- 23 Nov 2025 16:28 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Konsep self love atau mencintai diri sendiri kian sering dibahas dalam berbagai diskusi kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda. Dalam ilmu psikologi, self love dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menerima dan menghargai dirinya secara utuh, baik kelebihan maupun kekurangannya. Hal ini juga mencakup tindakan nyata untuk mendukung pertumbuhan fisik, mental, serta spiritual.
Pengajar Aceh Flexi School, Esti Wulansari, dalam dialog interaktif di RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis (20/11/2025) menjelaskan bahwa mencintai diri bukan hanya tentang merasa cukup pada diri sendiri, tetapi juga tentang kesadaran untuk terus berkembang. “Self love itu bukan memanjakan diri secara berlebihan, tetapi kemampuan untuk mengenali diri, merawat diri, dan mengambil keputusan yang sehat demi kebaikan jangka panjang kita,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, konsep mencintai diri memiliki makna yang lebih dalam. Tubuh, akal, dan jiwa manusia merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dipelihara. Esti Wulansari menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan nilai spiritual yang diajarkan dalam Islam. “Apa yang ada pada diri kita adalah titipan dari Allah. Maka mencintai diri berarti menjaga amanah itu dengan baik, menjauhkannya dari hal-hal yang merusak, dan mengarahkan diri pada kebaikan,” jelasnya.
Menurutnya, pemahaman self love dalam Islam tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dengan menjaga diri secara fisik maupun mental, seorang hamba dapat menjalankan perannya dengan lebih optimal. “Allah sudah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Pengakuan atas nilai diri ini bukan bentuk keangkuhan, tapi bagian dari rasa syukur,” tambah Esti.
Ia juga menegaskan bahwa self love tidak boleh disamakan dengan sifat narsis atau egois. Dua sifat tersebut justru menempatkan diri secara berlebihan, sementara self love dalam Islam menempatkan manusia sebagai hamba yang memiliki kewajiban untuk terus berbuat baik. “Menghargai diri itu penting, tapi tetap harus seimbang dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama,” kata Esti.
Dengan memahami self love secara utuh baik secara psikologis maupun spiritual masyarakat diharapkan dapat menerapkan pola hidup yang lebih sehat, lebih berenergi, dan lebih seimbang. Pada akhirnya, mencintai diri bukan hanya tentang merasa cukup, tetapi juga tentang menjalankan amanah dari Sang Pencipta untuk merawat jiwa dan raga dengan sebaik-baiknya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....