Generasi Muda Aceh Lestarikan Memori Tsunami Lewat Teknologi

  • 11 Nov 2025 15:16 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Sudah genap setahun sejak perwakilan lembaga-lembaga dari Aceh mengikuti Sakura Science Exchange Program di Jepang. Program yang berlangsung pada 19 hingga 26 Oktober 2024 ini menjadi momen berharga bagi para peserta muda untuk berkolaborasi dengan ilmuwan dan praktisi dari berbagai bidang, khususnya dalam upaya pelestarian memori bencana.

Salah satu peserta program tersebut adalah Eka Husnul Hidayati, arsiparis yang mewakili lembaganya dalam kolaborasi antara Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala dan Kyoto University. Dalam dialog interaktif Talk and Trends di RRI Pro 2 Banda Aceh, Senin (3/11/2025) menjelaskan bahwa program ini diikuti oleh peserta dari beragam latar belakang seperti arsiparis, pustakawan, hingga pihak museum tsunami.

“Program ini memang dirancang agar anak muda lintas profesi bisa berkolaborasi. Tujuannya supaya ilmu dan semangatnya bisa berkelanjutan, terutama dalam pelestarian memori bencana,” ujar Eka Husnul Hidayati.

Selama seminggu di Kyoto, para peserta tidak hanya belajar, tetapi juga menciptakan proyek nyata yang berfokus pada pelestarian memori bencana tsunami Aceh 2004. Salah satu hasilnya adalah pengembangan aplikasi digital bernama Memory Graf.

“Aplikasi Memory Graf ini dibuat untuk menyimpan dan membandingkan memori visual lokasi-lokasi terdampak bencana. Jadi, misalnya dulu kawasan Blang Padang hancur karena tsunami, kini bisa kita dokumentasikan kembali untuk melihat bagaimana perubahan dan kebangkitan masyarakatnya,” jelas Eka.

Menurut Eka, Memory Graf bukan sekadar arsip digital, melainkan alat edukasi yang memperlihatkan bagaimana masyarakat bangkit dari bencana. Setiap foto yang tersimpan dalam aplikasi menjadi saksi perjalanan waktu dari kehancuran menuju pemulihan.

“Harapannya, aplikasi ini bisa membantu kita menjaga jejak sejarah. Jangan sampai memori bencana itu hilang karena perubahan lanskap yang terlalu cepat. Kita ingin masyarakat tetap ingat, tapi juga bangga karena bisa bangkit,” tambahnya.

Eka yang merupakan generasi milenial juga menceritakan bahwa dirinya termasuk penyintas tsunami 2004. Ia masih mengingat jelas bagaimana guncangan hebat dan kepanikan saat itu terjadi.

“Saya masih ingat, waktu itu gempa begitu kuat sampai kita enggak bisa berdiri, harus pegangan ke benda. Setelah itu baru kita sadar betapa besar dampaknya. Jadi ketika sekarang bisa ikut program ini, rasanya seperti memelihara kenangan itu dalam bentuk yang lebih positif,” ujarnya.

Melalui Memory Graf, para peserta berharap generasi muda yang lahir setelah 2004 juga dapat memahami sejarah secara visual, bukan hanya melalui cerita atau arsip teks. Dengan teknologi ini, mereka bisa melihat bagaimana Aceh berubah—dari reruntuhan menjadi simbol ketangguhan.

“Kalau generasi sekarang mungkin hanya tahu dari video lama atau foto-foto kabur. Lewat aplikasi ini kita ingin mereka melihat lebih dekat, bahwa di tempat yang mereka pijak sekarang, pernah ada sejarah besar yang harus selalu diingat,” tutup Eka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....