Fenomena Remaja Bermula dari Perubahan Sosial Masyarakat Eropa

  • 29 Okt 2025 13:16 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Tema tentang remaja tampaknya tidak akan pernah habis untuk dibahas. Setiap zaman memiliki tantangan dan dinamika tersendiri yang dihadapi oleh generasi muda. Namun, pernahkah terpikir bahwa istilah remaja ternyata tidak selalu ada dalam sejarah manusia? Eka Fitriani, Guru di SMA Negeri 3 Banda Aceh, dalam dialog interaktif Obrolan Seru Santai Islami di RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis (23/10/2025). Menjelaskan istilah remaja baru dikenal sejak abad ke-19, tepatnya setelah terjadinya revolusi industri di Eropa.

“Kalau kita lihat sebelum abad ke-19, belum ada istilah remaja seperti sekarang,” ujar Eka. “Dulu hanya dikenal dua fase, yaitu anak-anak dan dewasa. Tidak ada masa transisi di antara keduanya.” Ia menjelaskan, pada masa itu seseorang yang telah dianggap cukup umur langsung masuk ke fase dewasa dengan segala tanggung jawab yang melekat.

Perubahan besar terjadi ketika revolusi industri dimulai. Pada masa itu, baik ayah maupun ibu mulai sama-sama bekerja di luar rumah. “Ketika orang tua mulai bekerja di luar, anak-anak akhirnya dititipkan ke tempat yang disebut sekolah,” jelas Eka. “Awalnya sekolah, seperti taman kanak-kanak, sebenarnya bukan tempat belajar membaca atau menulis, tapi tempat bermain dan bersosialisasi.”

Namun, perubahan sosial dan ekonomi membuat fungsi sekolah bergeser. Anak-anak yang dulu banyak belajar nilai dan tanggung jawab di rumah, kini lebih banyak menghabiskan waktu di luar. “Bonding atau kedekatan emosional dengan orang tua berkurang,” tutur Eka. “Akibatnya, banyak anak yang secara biologis sudah baligh, tapi secara mental belum akil atau belum matang.”

Menurut Eka, kondisi inilah yang melahirkan fenomena baru dalam masyarakat munculnya kelompok usia yang berada di tengah-tengah antara anak-anak dan orang dewasa. “Mereka bukan lagi anak-anak, tapi juga belum bisa disebut dewasa karena belum mampu menanggung tanggung jawab seperti orang dewasa,” ujarnya.

Dari sinilah, istilah remaja kemudian muncul dan mulai digunakan dalam kajian sosial dan psikologis pada abad ke-19. Para ahli mulai mempelajari karakteristik usia ini masa transisi yang penuh perubahan fisik, emosi, dan pencarian jati diri. “Remaja adalah masa yang unik,” kata Eka. “Di satu sisi mereka mulai berpikir layaknya orang dewasa, tapi di sisi lain masih membutuhkan bimbingan dan arahan.”

Eka menambahkan, memahami remaja berarti memahami konteks sejarah dan perubahan sosial yang membentuk mereka. “Fenomena remaja yang sering dianggap penuh masalah sebenarnya tidak terlepas dari perubahan pola asuh dan lingkungan sosial sejak masa revolusi industri,” ungkapnya.

Ia berharap para orang tua dan pendidik bisa lebih memahami fase penting ini. “Remaja bukanlah anak kecil yang manja, tapi juga bukan orang dewasa yang sudah siap sepenuhnya,” tutup Eka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....