Budaya Oversharing Marak, Literasi Digital Jadi Solusi Bijak
- 23 Sep 2025 20:55 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Fenomena oversharing atau kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial kian marak di tengah masyarakat digital. Kemudahan teknologi dan kebebasan berekspresi di dunia maya seolah membuka ruang tanpa batas bagi siapa saja untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan pengalaman. Namun, di balik sisi positif keterhubungan, terdapat dampak negatif yang patut diwaspadai.
Salah satu pengajar di Aceh Flexi School, Nola Candra Pratiwi, dalam dialog interaktif Obrolan Seru Santai Islami, Kamis, (11/9/2025) mengatakan budaya oversharing lahir dari minimnya pemahaman literasi digital. “Kita sedang berada di era di mana semua orang memiliki ruang tanpa batas untuk menyampaikan apa saja. Sayangnya, hal itu melahirkan dua sisi yang kontras. Ada sisi positif, kita bisa saling berbagi dan terhubung. Tapi sisi negatifnya adalah lahirnya budaya oversharing,” jelas Nola.
Nola menilai, literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kecakapan memahami informasi yang diterima maupun disampaikan. “Banyak yang berpikir literasi itu hanya sekadar bisa membaca dan menulis. Padahal literasi adalah kecakapan memahami apa yang kita baca dan apa yang kita tulis. Ini yang sering terabaikan,” ujarnya.
Fenomena ini, lanjut Nola, menunjukkan pentingnya menumbuhkan literasi sejak dini. Tanpa pemahaman yang matang, masyarakat mudah tergoda membagikan informasi pribadi tanpa mempertimbangkan risiko, mulai dari penyalahgunaan data hingga dampak psikologis. “Literasi itu dipupuk sejak kecil, tapi kalau kita sudah dewasa dan ingin berubah, bukan berarti terlambat. Selalu ada waktu untuk memperbaiki pemahaman literasi kita,” tutur Nola.
Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar literasi tidak mengenal batas usia. “Kita pernah dengar istilah belajar tanpa batas. Literasi bisa dipelajari di usia berapa pun. Tidak ada kata terlambat untuk memahami pentingnya literasi,” tegas Nola.
Di lapangan, Nola sering menemui kasus anak-anak yang sudah mampu membaca dan menulis, namun tidak memahami makna dari bacaan atau tulisannya sendiri. “Ada anak yang bisa baca dan menulis, tapi tidak paham apa yang dibaca dan tidak paham apa yang ditulis. Ini menjadi tantangan besar bagi tenaga pendidik,” ungkapnya.
Sebagai solusi, Nola mendorong kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menanamkan literasi komprehensif. Pemahaman literasi yang baik diharapkan dapat mengurangi dampak negatif budaya oversharing sekaligus membentuk generasi yang lebih kritis dan bijak dalam menggunakan media sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....