Pengabaian dengan Gawai Berdampak Kualitas Hubungan Sosial
- 11 Jul 2025 18:46 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Dalam era serba digital seperti sekarang, fenomena phubbing semakin sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Phubbing, yang berasal dari kata phone dan snubbing, berarti tindakan seseorang yang lebih memilih memperhatikan gawainya dibandingkan orang di depannya. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini ternyata bisa menimbulkan dampak serius bagi kualitas hubungan sosial, keluarga, hingga pekerjaan.
Menurut Edukator Gen A sekaligus Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) Banda AcehAlicya Putri, , dalam dialog interaktif Cek Cerita Kamu yang disiarkan Rabu, (9/7/2025), di RRI Pro 2 Banda Aceh. Menuturkan bahwa pengalaman dengan phubbing sebenarnya banyak dialami anak muda saat ini. Menurutnya, budaya update dan fear of missing out (FOMO) membuat banyak orang merasa harus selalu terhubung dengan media sosial, tanpa memikirkan dampaknya pada orang di sekitar.
“Teman-teman saya itu anak medsos banget. Mereka enggak mau ketinggalan berita atau telat upload sesuatu. Sayangnya, karena terlalu terpaku sama media sosial, kadang kalau kita lagi curhat tiba-tiba mereka lihat HP tanpa alasan jelas. Ini bikin kita yang lagi bicara merasa enggak dihargai,” kata Alicya Putri.
Lebih jauh, Alicya menjelaskan bahwa phubbing tidak hanya berdampak pada pertemanan, tetapi juga pada hubungan di dalam keluarga. Ia mencontohkan pasangan suami istri yang sama-sama sibuk bekerja seharian, tetapi justru tetap sibuk dengan gawai ketika sudah di rumah. Alih-alih bercengkerama dan saling bercerita, banyak waktu dihabiskan menatap layar.
“Padahal, momen seperti pillow talk di malam hari itu penting untuk menjaga kehangatan rumah tangga. Tapi sekarang banyak pasangan malah asyik dengan HP masing-masing. Kalau dibiarkan terus-menerus, ini bisa menurunkan kepuasan pernikahan. Ada banyak jurnal yang membuktikan hal itu,” ujar Alicya.
Tak hanya di rumah, phubbing juga kerap ditemukan di kafe atau tempat nongkrong. Sering kali satu meja diisi banyak orang, namun masing-masing sibuk dengan layar gawainya. Interaksi langsung perlahan tergantikan oleh aktivitas virtual yang membuat keakraban perlahan memudar.
Fenomena ini, menurut Alicya, berbahaya karena secara perlahan mulai dianggap hal yang wajar. Banyak orang menormalisasi perilaku ini dengan alasan bahwa penggunaan HP sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan ini akan membunuh kualitas komunikasi.
“Bahaya phubbing itu bukan hanya bikin orang merasa diabaikan, tapi juga bisa bikin kita kehilangan kepekaan sosial. Kalau diabaikan terus, orang bisa merasa ceritanya enggak menarik atau dirinya enggak penting. Ini kan enggak sehat untuk hubungan apa pun, baik itu pertemanan, keluarga, atau pekerjaan,” tambahnya.
Alicya pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai lebih sadar akan dampak phubbing. Menurutnya, komunikasi tatap muka harus tetap dijaga dengan saling fokus pada lawan bicara. Hal ini penting agar hubungan antarindividu tetap hangat dan bermakna.
“Kalau lagi ngobrol, ya fokuslah. Letakkan HP sejenak. Waktu kita kan sama-sama terbatas. Jadi, sayang sekali kalau momen ngobrol langsung harus terganggu hanya karena notifikasi yang belum tentu penting,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....