Narsistik Bisa Jadi Gangguan Kepribadian Serius, Benarkah?
- 14 Jun 2025 16:51 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik menjadi salah satu topik yang semakin relevan dibahas, terutama di era digital yang serba cepat dan visual seperti saat ini. Meskipun istilah "narsistik" kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tak banyak yang memahami bahwa kondisi ini sebenarnya bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian serius.
Anita Sapitri, seorang Perawat Anak dan Remaja di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, dalam dialog interaktif Obrolan Seru Santai Islami (OSSI) yang disiarkan di RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis, (12/5/2025). Mengatakan pada dasarnya setiap orang memiliki sisi narsistik dalam dirinya. “Sifat narsis itu alami, misalnya saat kita memilih pakaian terbaik agar terlihat menarik, atau mengganti gawai dengan versi terbaru demi menunjukkan status. Itu adalah bagian dari kebutuhan aktualisasi diri,” jelas Anita.
Namun, Anita menekankan bahwa masalah muncul ketika sifat narsistik tersebut dibarengi dengan kepribadian yang tidak seimbang dan cenderung manipulatif. “Ketika seseorang sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain, sulit menerima kritik, dan merasa lebih unggul dari orang lain secara ekstrem, di situlah sifat narsistik bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian narsistik,” paparnya.
NPD tergolong dalam kelompok gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola pikir dan perilaku yang kaku serta menyimpang dari norma sosial, yang pada akhirnya mengganggu kehidupan sosial maupun pekerjaan penderitanya. Meski tampak percaya diri, individu dengan NPD sebenarnya sering kali memiliki harga diri yang rapuh dan sangat bergantung pada pujian eksternal.
“Yang membuat NPD sulit dikenali adalah karena sering kali penderitanya sendiri tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan. Mereka justru merasa diri mereka hebat, sehingga tak merasa butuh bantuan profesional,” ujar Anita.
Di era media sosial saat ini, di mana validasi dan popularitas dapat dengan mudah diukur melalui jumlah ‘likes’ atau pengikut, risiko berkembangnya sifat narsistik menjadi lebih besar. “Semakin canggih teknologi, semakin tinggi pula kecenderungan orang untuk membentuk citra diri yang ideal di ruang digital. Ini bisa memicu peningkatan kasus NPD, khususnya di kalangan remaja,” tambahnya.
Anita juga menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mengedukasi serta mengenali tanda-tanda awal dari NPD, terutama pada anak-anak dan remaja. “Komunikasi terbuka dan pendidikan emosi sangat penting agar anak-anak tidak hanya mengejar pengakuan dari luar, tapi juga mampu mengenali nilai dirinya secara sehat,” katanya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak serta-merta melabeli seseorang sebagai ‘narsistik’ hanya karena mereka suka tampil atau percaya diri. “Ada perbedaan besar antara narsis sebagai sifat dan narsistik sebagai gangguan. Perlu penilaian klinis oleh profesional kesehatan jiwa untuk memastikan apakah seseorang mengalami NPD,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....