Bullying Dimulai dari Hal yang Dianggap Biasa
- 13 Mei 2025 19:56 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Putri Indonesia Cendekiawan 2024, Feira Lovia Hasibuan, menyatakan Bullying dimulai dari hal-hal yang dianggap biasa. Oleh karena itu ia mengajak para pelajar di Aceh untuk tidak hanya menjauhi tindakan perundungan (bullying), tetapi juga berani menegur dan menghentikan aksi tersebut di lingkungan sekolah.
Menurut Feira, bentuk perundungan yang paling sering terjadi saat ini tidak selalu berupa kekerasan fisik, melainkan muncul dalam bentuk verbal, sindiran, hingga tindakan di media sosial dan aplikasi perpesanan seperti WhatsApp.
“Kadang stiker WA yang menampilkan wajah teman sendiri bisa jadi bentuk bullying, apalagi kalau itu dikirim terus-menerus tanpa izin atau membuat yang bersangkutan malu,” katanya dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh dalam program Pro 2 Goes to School, Rabu (30/5/2025), yang mengangkat tema Sinergi Sekolah, Pencegahan Narkoba & Anti-Bullying untuk Generasi Aceh Tangguh.

Putri Indonesia Cendekiawan 2024, Feira Lovia Hasibuan, saat menjadi narasumber dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh dalam program Pro 2 Goes to School, Rabu (30/5/2025).
Feira juga berbagi pengalaman pribadinya. Meski ia tidak pernah menjadi korban, ia mengakui pernah terlibat sebagai “penonton” saat temannya membully orang lain. Namun, seiring waktu dan pemahaman yang berkembang, ia memutuskan untuk berubah.
“Saya dulu ikut ketawa saat teman mengejek orang lain. Tapi setelah saya sadar itu salah, saya mulai mengingatkan. Sekarang saya pilih jadi yang menegur, bukan mendiamkan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjadi "upstander", yaitu seseorang yang berani bersuara melawan bullying, dibanding menjadi "bystander" yang hanya menonton tanpa berbuat apa-apa. Menurutnya, perubahan sikap ini penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat bagi semua siswa.
Feira juga menyoroti budaya senioritas yang kadang dimanfaatkan untuk menindas adik kelas. Ia berharap sekolah bisa terus berperan aktif dalam menciptakan sistem perlindungan siswa yang efektif dan inklusif. “Kalau kita sadar bercandaan sudah berlebihan, apalagi sampai menyakiti perasaan orang lain, sebaiknya langsung dihentikan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....