Mengapa Laut Terjadi Pasang Surut
- 29 Apr 2025 05:51 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh : Laut tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak naik dan turun, mengikuti irama tarikan gravitasi Bulan dan Matahari. Fenomena ini disebut pasang surut laut, dan sejak Isaac Newton menjelaskan teori gravitasinya pada 1687, manusia mulai memahami keterkaitan antara benda langit dan laut di bumi.
Menurut Buletin SIMMAG BMKG, kekuatan gravitasi Bulan lebih dominan dalam memengaruhi pasang surut dibanding Matahari. Ini karena jarak Bulan yang jauh lebih dekat ke Bumi.
Saat Bulan purnama atau bulan mati, ketika posisi Bulan, Bumi, dan Matahari sejajar, terjadilah pasang besar yang sering kita saksikan di pesisir. Gelombangnya bisa tinggi, membawa dampak pada aktivitas nelayan dan pelayaran.
Pasang surut laut memiliki tiga tipe utama. Pertama, pasang surut harian tunggal, yang hanya terjadi satu kali pasang dan surut dalam sehari.
Kedua, pasang surut harian ganda, yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut setiap hari. Ketiga, pasang surut campuran, yang terbagi menjadi condong ke harian tunggal dan condong ke harian ganda.
Perbedaan ini terjadi karena tiap wilayah punya respons berbeda terhadap tarikan gravitasi. Faktor lokal seperti bentuk pantai dan kedalaman laut juga memengaruhi.
Fase Bulan ikut menentukan tinggi-rendahnya pasang. Bulan purnama cenderung memicu pasang tertinggi, sementara fase kuartil menghasilkan pasang yang lebih rendah.
Pasang surut bukan sekadar gejala alam. Ia adalah bagian dari harmoni semesta—di mana langit dan laut saling berbicara dalam bahasa gravitasi yang tak terlihat, namun nyata dampaknya bagi kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....