Pendidikan Adab Anak Dimulai dari Lingkungan Keluarga

  • 16 Sep 2026 20:50 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan adab dan akhlak yang menjadi dasar perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Peran keluarga dinilai menjadi bagian penting karena pendidikan informal di rumah memberikan pengaruh kuat terhadap sikap anak ketika berada di luar lingkungan keluarga.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Yayasan Kayang Bangun Semesta sekaligus praktisi pendidikan inklusi dan parenting, Saprina Siregar, S.Pd.I., M.Pd., dalam program siaran Siereuboh Programa 4 RRI Banda Aceh, Selasa 15 September 2026. Menurut Saprina, pendidikan akademik di sekolah tidak dapat sepenuhnya mengakomodasi pembentukan akhlak anak, sehingga keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan nilai dan kebiasaan.

Saprina menjelaskan, adab sebaiknya dibangun melalui keteladanan orang tua dan kebiasaan yang diterapkan di rumah. Anak tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga contoh nyata dari perilaku ayah dan ibu. Ketika anak terbiasa melihat orang tua menjaga tutur kata, menghormati orang lain, menjalankan ibadah, dan menunjukkan sikap yang baik, kebiasaan tersebut dapat menjadi bekal ketika anak berinteraksi di masyarakat.

Direktur Pendidikan Yayasan Kayang Bangun Semesta sekaligus praktisi pendidikan inklusi dan parenting, Saprina Siregar, S.Pd.I., M.Pd., dalam program siaran Siereuboh Programa 4 RRI Banda Aceh, Selasa (15/9). Foto : RRI/Lis.

Di tengah perkembangan teknologi digital, pembentukan adab menghadapi tantangan yang semakin luas. Saprina menilai penggunaan gawai perlu disertai aturan dan pendampingan dari keluarga. Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat bagi pendidikan, tetapi tanpa batasan dan keteladanan, anak berpotensi terpapar berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai yang ditanamkan keluarga.

Ia juga menekankan pentingnya orang tua memahami karakter masing-masing anak. Pola asuh tidak dapat diterapkan secara seragam karena setiap anak memiliki kebutuhan, karakter, dan respons emosional yang berbeda. Karena itu, komunikasi terbuka, penghargaan terhadap anak, serta kedekatan emosional menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan, termasuk ketika orang tua menetapkan batasan penggunaan gawai.

Saprina menambahkan, tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk memperbaiki pola pengasuhan. Orang tua dapat mengakui kesalahan, meminta maaf kepada anak, kemudian terus belajar menyesuaikan cara mendidik dengan kebutuhan anak. Menurutnya, orang tua tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi perlu terus belajar menjadi teladan bagi anak. Ia menegaskan bahwa adab bukan hanya diperoleh di sekolah, melainkan pertama kali ditemukan dan dibentuk di rumah melalui perilaku orang tua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....