Haul Habib Bugak Bakal Digelar di Bireuen, Mengenang Jejak Wakaf untuk Jemaah Aceh

  • 15 Sep 2026 12:31 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Bireuen – Forum Keluarga Besar Habib Bugak akan menggelar Haul Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau yang dikenal dengan Habib Bugak, di kompleks makam Habib Bugak Peusangan, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu, 27 September 2026.

Ketua Panitia Pelaksana Haul sekaligus Pembina Forum Keluarga Besar Habib Bugak, Said Jamaluddin, saat dihubungi RRI menjelaskan kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum. Menurutnya, Haul menjadi momentum untuk mengenang perjuangan dan jasa Habib Bugak, sekaligus mempererat silaturahmi keluarga dan masyarakat.

“Insyaallah kita akan mengadakan haul Habib Bugak atau Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi yang dilaksanakan oleh Forum Keluarga Besar Habib Bugak di makam Habib Bugak,” ujar Said Jamaluddin, Selasa 15 September 2026.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan Ratib Al-Attas dan Ratib Al-Haddad, Maulid Simtudduror, serta ziarah kubur. Pada kegiatan ini juga akan menyampaikan manakib atau sejarah kehidupan Habib Bugak kepada para masyarakat yang hadir.

Puncak kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan Habib Abdullah bin Ja'far Al-Habsyi. Selain itu, panitia juga menjadwalkan sambutan dari Penjabat Bupati Bireuen sebagai bagian dari rangkaian acara haul.

Menurut Said Jamaluddin, pelaksanaan haul tidak hanya penting bagi keluarga besar Habib Bugak, tetapi juga bagi masyarakat Aceh. Sebab, Habib Bugak dikenal memiliki kontribusi besar melalui wakaf Baitul Asyi di Makkah yang memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh, khususnya jamaah haji dan masyarakat Aceh yang menempuh pendidikan di Tanah Suci.

“Sebagai masyarakat Aceh, tentunya kita akan mengingat jasa-jasa beliau dengan kita membuat haul. Masyarakat Aceh bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh beliau,” katanya.

Ia menyebutkan, peserta haul diperkirakan tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Aceh, tetapi juga dari luar daerah dan luar negeri. “Sejumlah keluarga dan keturunan Habib Bugak yang berada di Malaysia, Singapura, Jakarta, serta sejumlah daerah lainnya turut berkesempatan hadir,” ungkapnya.

Said Jamaluddin menambahkan, kondisi makam Habib Bugak saat ini sudah semakin baik berkat perhatian dan dukungan pemerintah. Namun, ia berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan perhatian terhadap akses jalan menuju lokasi makam yang dinilai masih sempit.

“Kalau kondisi makam sudah bagus dan terawat, hanya saja akses jalan masuk yang perlu adanya perhatian untuk perluasan agar memudahkan para peziarah saat berkunjung,” katanya.

Menurutnya, makam Habib Bugak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Selain memperkenalkan sejarah dan jasa Habib Bugak kepada generasi mendatang, pengembangan kawasan tersebut dinilai dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kalau dikembangkan bisa menjadi tempat wisata religi yang sangat luar biasa. Kalau itu dikembangkan, bisa menjadi satu pusat perputaran ekonomi yang sangat besar,” ujarnya.

Ia mengatakan, makam Habib Bugak selama ini juga telah dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri. Kunjungan biasanya meningkat pada momentum tertentu, terutama berkaitan dengan musim haji dan kepulangan jamaah ke Aceh.

Sekilas Tentang Sejarah Habib Bugak

Nama Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau lebih dikenal sebagai Habib Bugak tidak dapat dipisahkan dari sejarah wakaf Baitul Asyi di Makkah, Arab Saudi. Wakaf yang telah berusia lebih dari dua abad tersebut hingga kini masih memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh, khususnya jemaah haji asal Aceh.

Habib Abdurrahman Al-Habsyi Bugak dikenal sebagai ulama fikih, sufi, tokoh masyarakat sekaligus bentara atau laksamana yang dipercaya oleh Sultan Aceh Darussalam. Dalam dokumen kesultanan, ia disebut memiliki kewenangan di wilayah yang membentang dari sekitar Jeumpa, Peusangan, Monklayu, Bugak hingga Cunda dan Nisam.

Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau lebih dikenal Habib Bugak (Foto: Ist)

Nama Habib Bugak sendiri berkaitan dengan tempat beliau bermukim di wilayah Bugak. Dalam tradisi masyarakat setempat, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi disebut sebagai salah satu tokoh yang memiliki kedudukan penting di kawasan tersebut dan kemudian namanya melekat dengan wilayah Bugak.

Salah satu warisan terbesar Habib Bugak adalah wakaf Baitul Asyi di Makkah. Wakaf tersebut diikrarkan di hadapan hakim Mahkamah Syariah Makkah sekitar 1222–1224 Hijriah atau sekitar 1809 Masehi. Dokumen Kementerian Agama menyebut wakaf tersebut diperuntukkan bagi orang Aceh yang menunaikan ibadah haji serta masyarakat Aceh yang menetap di Makkah.

Dalam perkembangannya, aset wakaf tersebut dikelola secara produktif sehingga manfaatnya terus berkembang. Wakaf yang pada awalnya berupa rumah dan tanah di sekitar Makkah kemudian berkembang menjadi aset yang menghasilkan manfaat ekonomi bagi penerima wakaf. Badan Wakaf Indonesia mencatat, wakaf Habib Bugak berasal dari aset yang diwakafkan sekitar 1809 dan manfaatnya terus diwariskan lintas generasi.

Elaf Al Mashaer Hotel yang dibangun di atas tanah wakaf Habib Bugak Al Asyi/Dok Baitul Asyi

Dahulu, manfaat wakaf Baitul Asyi diberikan dalam bentuk penyediaan tempat tinggal dan kebutuhan jemaah haji Aceh selama berada di Tanah Suci. Seiring perkembangan dan perubahan aset wakaf, sejak 2006 manfaat tersebut disalurkan dalam bentuk uang kepada jemaah haji asal Aceh sebagai kompensasi atas pemanfaatan aset wakaf.

Data terbaru dari Kementerian Haji dan Umrah, hingga musim haji 1447 Hijriah atau tahun 2026, Jemaah haji asal Aceh menerima manfaat wakaf Baitul Asyi sebesar 2.000 Riyal Arab Saudi per orang, atau sekitar Rp9,2 juta. Data yang disampaikan dalam pemberitaan BWI menyebut sebanyak 5.426 jemaah haji asal Aceh menerima manfaat tersebut, dengan total sekitar 10,8 juta Riyal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....