Kasab Aceh, Sulaman Benang Emas Sarat Makna Budaya
- 10 Agt 2026 11:00 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Siapa sangka selembar kain beludru bisa menyimpan begitu banyak cerita ? Di Aceh, kain semacam ini dibubuhi karya seni bernama kasab, hasil sulaman tangan yang sudah berumur ratusan tahun.
Kasab sendiri sebenarnya merujuk pada teknik menyulamnya, bukan nama kainnya. Setiap benang emas yang terjalin lewat teknik ini membawa makna filosofis yang lekat dengan nilai-nilai keislaman masyarakat Aceh.
Tradisi menyulam ini konon sudah hidup di tanah Rencong sejak lebih dari 400 tahun silam. Buktinya masih bisa dilihat dari pola-pola kuno yang diwariskan turun-temurun hingga kini.
Prosesnya pun masih dikerjakan dengan cara manual, bukan mesin. Kain beludru dipilih sebagai media utama karena teksturnya kuat menahan beban sulaman sekaligus memberi kesan mewah saat dipandang.
Bahan lain yang tak kalah penting adalah benang emas, perak, atau benang warna-warni berkualitas tinggi. Kombinasi bahan ini membuat hasil sulaman tampak berkilau dan istimewa, cocok untuk acara-acara besar.
Waktu pengerjaan satu produk kasab bisa bervariasi, mulai dari hitungan hari sampai minggu. Semakin rumit motif dan besar ukurannya, semakin lama pula proses penyelesaiannya.
Bicara soal motif, ada beberapa corak yang paling sering dijumpai dalam kerajinan kasab. Tiga di antaranya yang populer adalah Pucok Rebung, Pinto Aceh, dan Sulubayung.
Motif Pucok Rebung menggambarkan harapan dan semangat pertumbuhan. Bentuknya terinspirasi dari tunas bambu muda yang terus menjulang ke atas.
Sementara itu, motif Pinto Aceh punya makna keterbukaan dan kerendahan hati. Motif ini juga dikenal luas di luar dunia sulaman, misalnya pada ornamen bangunan dan perhiasan khas Aceh.
Ada pula motif Sulubayung yang menjadi ciri khas Aceh Barat. Motif ini melambangkan keindahan alam, kesucian, serta harapan akan kehidupan yang harmonis.
Selain motif, warna pada kasab juga tak dipilih sembarangan. Umumnya ada empat warna yang sering muncul, yaitu kuning, merah, hijau, dan hitam, biasanya diaplikasikan pada kain tirai.
Kebanyakan corak yang disulam berbentuk floral atau tumbuhan, jarang sekali berupa gambar makhluk hidup. Hal ini erat kaitannya dengan ajaran Islam yang dipegang teguh masyarakat Aceh sejak lama.
Selain kasab, ada juga istilah seuhap dan sangee yang kerap muncul. Sangee sendiri adalah tudung saji berbentuk kerucut yang berfungsi menutup talam hantaran pada proses adat pernikahan, sedangkan seuhap merupakan kain hias yang menyelimuti sangee tersebut.
Perpaduan sangee dan seuhap ini biasa terlihat pada pesta pernikahan adat Aceh sebagai penutup barang seserahan. Tak jarang pula keduanya digunakan sebagai penutup peralatan peusijuek yang diletakkan di kanan-kiri pelaminan.
Produk yang dihasilkan dari kerajinan kasab pun beragam, bukan cuma untuk pelaminan. Mulai dari sarung bantal, tirai, busana, songket, tas, hingga hiasan dinding, semuanya bisa disentuh sulaman kasab.
Setiap daerah di Aceh punya sentra dan ciri khasnya sendiri. Sebut saja Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Singkil, hingga Pidie, yang masing-masing punya sentuhan motif berbeda.
Menariknya, kasab Aceh kini sudah merambah pasar internasional. Negara seperti India dan Pakistan menyukai sulaman ini untuk mempercantik saree dan dupatta, sementara Malaysia, Singapura, dan Brunei juga jadi pasar potensial.
Di balik keindahannya, kasab menyimpan pesan tentang identitas dan ketekunan masyarakat Aceh. Warisan budaya yang wajib dijaga, sekaligus menjadi kebanggaan yang bisa dinikmati generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....