Seuramoe Heritage Ajak Masyarakat Telusuri Jejak Tiga Zaman di Jantung Banda Aceh
- 04 Agt 2026 12:04 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Komunitas Seuramoe Heritage menggelar kegiatan field trip bertajuk "Jejak Tiga Zaman di Jantung Banda Aceh" di kawasan Taman Sari Bustanussalatin, Banda Aceh, Minggu 2 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengunjungi tiga situs bersejarah, yakni Hotel Atjeh, Water Toren Kutaraja, dan Tugu Proklamasi Aceh yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kota Banda Aceh.
Menurut pemandu Seuramoe Heritage, Aji Chaedesar kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan sejarah kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih ringan dan menarik. Dengan cara itu, masyarakat tidak hanya memandang sejarah berdasarkan asumsi, tetapi juga dapat memahami sisi lain dari berbagai situs bersejarah di Banda Aceh.
"Kami ingin mengenalkan sejarah dengan pendekatan yang lebih ringan. Orang-orang tidak hanya melihat sejarah berdasarkan asumsi, tetapi juga bisa melihat sisi lain dari sejarah itu sendiri. Misalnya Water Toren, banyak yang baru mengetahui bahwa menara air ini bekerja tanpa mesin, melainkan memanfaatkan hukum gravitasi. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang menyukai sejarah karena ada romantisme dari situs tersebut. Melalui gerakan ini, kami ingin masyarakat melihat Banda Aceh dari sudut pandang yang berbeda," ujarnya
Hotel Atjeh dan Sejarah Pembelian Pesawat RI-001 Seulawah
Situs pertama yang dikunjungi peserta adalah lokasi bekas Hotel Atjeh. Hotel tersebut didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20 sebagai penginapan bagi pejabat, perwira militer, dan tamu asing.
Bangunan ini kemudian menjadi saksi kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh pada 16 Juni 1948 dalam rangka menghimpun dukungan moral dan finansial bagi Republik Indonesia yang tengah mempertahankan kemerdekaan.
Pada malam harinya, Soekarno menghadiri jamuan makan bersama para saudagar Aceh yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Aceh (GASIDA) serta sejumlah tokoh Aceh, termasuk Teungku Daud Beureueh.
Dalam pertemuan tersebut, Soekarno memohon dukungan kepada masyarakat Aceh. Dari sumbangan berupa emas dan perhiasan yang berhasil dihimpun, sekitar 20 kilogram emas kemudian digunakan untuk membeli pesawat angkut pertama Indonesia, Douglas C-47 Skytrain yang dikenal sebagai RI-001 Seulawah. Pesawat tersebut menjadi bagian penting dari cikal bakal penerbangan komersial Indonesia.
Pada 1995, bangunan Hotel Atjeh dibongkar dengan rencana pembangunan hotel baru yang lebih modern. Namun, proyek tersebut terhenti akibat krisis moneter 1997–1998. Saat tsunami melanda Banda Aceh pada 26 Desember 2004, bangunan Hotel Atjeh sudah tidak lagi berada di lokasi tersebut. Kini, bekas lahannya menjadi bagian dari kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Water Toren, Saksi Modernisasi Infrastruktur Kutaraja
Perjalanan kemudian berlanjut ke Water Toren atau Menara Air Kutaraja yang berada di kawasan Taman Sari Bustanussalatin. Bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut dibangun sebagai bagian dari sistem penyediaan air bersih modern yang dikenal dengan nama Schoon Water Systeem in Koetaradja. Menara ini berfungsi sebagai tempat penampungan sekaligus pendistribusian air menggunakan sistem gravitasi tanpa bantuan mesin.
Air dari sistem tersebut dialirkan ke berbagai fasilitas penting pada masa itu, seperti kompleks pemerintahan, rumah sakit militer, tangsi KNIL, hingga Hotel Atjeh.
Water Toren dibangun menggunakan beton bertulang dan bata tebal bergaya kolonial tropis. Saat tsunami 26 Desember 2004 menerjang Banda Aceh, bangunan ini tetap berdiri dan tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti.
Saat ini, Water Toren telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Balai Pelestarian Kebudayaan.
Dari Taman Ghairah hingga Taman Bustanussalatin
Selain mengenal Water Toren, peserta juga diajak memahami sejarah kawasan Taman Bustanussalatin yang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar abad ke-17, kawasan tersebut merupakan bagian dari kompleks taman istana yang dikenal sebagai Taman Ghairah. Di dalamnya terdapat area Bustanussalatin atau Taman Raja-raja yang dilengkapi berbagai balai, tempat pemandian putri raja (Gunongan), serta aliran Sungai Krueng Daroy.
Setelah Belanda menguasai Kutaraja, sebagian kawasan taman yang mengalami kerusakan ditata kembali menjadi taman kota bergaya Eropa dan diberi nama Vredes Park atau Taman Perdamaian.
Setelah Indonesia merdeka, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai Taman Sari dan menjadi ruang terbuka hijau bagi masyarakat. Pada 2017, Pemerintah Kota Banda Aceh melakukan revitalisasi kawasan dan mengembalikan nama historisnya menjadi Taman Bustanussalatin.
Tugu Proklamasi di Taman Sari Bustanussalatin
Lokasi terakhir yang dikunjungi peserta adalah Tugu Proklamasi Aceh.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, berita kemerdekaan tidak langsung tersebar luas di Aceh. Informasi tersebut diterima oleh para pemuda melalui kawat telegram dan kode morse, kemudian disebarkan secara rahasia kepada masyarakat.
Pada 21 Agustus 1945, ribuan rakyat Aceh berkumpul di kawasan Taman Sari Bustanussalatin. Di bawah kepemimpinan Teuku Nyak Arief, teks Proklamasi Kemerdekaan dibacakan kembali di hadapan masyarakat dan disertai pengibaran bendera Merah Putih serta pekik "Merdeka!".
Untuk mengenang peristiwa tersebut, kemudian dibangun Tugu Proklamasi Aceh yang dilengkapi relief teks Proklamasi dan prasasti peringatan peristiwa 21 Agustus 1945.
Saat tsunami melanda Banda Aceh pada 26 Desember 2004, tugu tersebut tetap berdiri dan hingga kini menjadi salah satu situs sejarah yang digunakan sebagai lokasi upacara, objek wisata sejarah, serta sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar.
Melalui kegiatan ini, Seuramoe Heritage mengajak masyarakat melihat Banda Aceh dari sudut pandang yang berbeda. Keberadaan Hotel Atjeh, Water Toren, Taman Bustanussalatin, dan Tugu Proklamasi menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh memiliki perjalanan sejarah yang panjang, mulai dari masa Kesultanan Aceh Darussalam, era kolonial, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga kebangkitan pascatsunami 2004. Berbagai situs tersebut diharapkan terus menjadi media pembelajaran sejarah bagi generasi muda sekaligus mendorong upaya pelestarian warisan budaya Aceh.
Kontributor : Shafa Salsabila
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....