Festival Permainan Tradisional Hidupkan Warisan Budaya Anak Aceh

  • 26 Jul 2026 22:02 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar — Riuh tawa anak-anak memecah pagi di Lapangan Sepak Bola Desa Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu 25 Juli 2026. Dengan kaki tanpa alas, sebagian berlari meniti balok kayu, sementara yang lain melompat di kotak-kotak engklek yang digambar di atas tanah. Di sudut lapangan, sorak-sorai teman dan guru mengiringi peserta yang berjuang menjaga keseimbangan di atas egrang bambu. Pemandangan itu seolah membawa kembali suasana permainan masa kecil yang mulai jarang ditemui.

Di bawah langit yang cerah, ratusan siswa sekolah dasar dari berbagai kecamatan berkumpul mengikuti Festival Permainan Tradisional Anak Tahun 2026 se-Kabupaten Aceh Besar. Mengusung tema "Bermain, Ceria dan Berbudaya", kegiatan yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar itu bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan kembali anak-anak dengan permainan warisan leluhur.

Festival dibuka oleh Bupati Aceh Besar yang diwakili Asisten III Setdakab Aceh Besar, Abdullah, S.Sos, melalui penampilan seni budaya, atraksi drumband, dan defile peserta yang memenuhi lapangan dengan ragam warna seragam sekolah. Suasana berubah semakin meriah ketika lomba dimulai. Ada yang tertawa karena terpeleset saat memakai terompah panjang, ada pula yang saling menyemangati ketika timnya berusaha memenangkan tarik tambang. Tak ada gawai di tangan mereka. Yang terdengar hanyalah tawa, tepuk tangan, dan sorakan penuh semangat.

Bagi sebagian anak, permainan seperti hadang, tarek situek, atau lari balok mungkin baru pertama kali mereka coba. Namun dalam waktu singkat, permainan-permainan sederhana itu berhasil menghapus sekat. Mereka belajar bekerja sama, menyusun strategi, saling percaya, bahkan menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Piet Rusdi, mengatakan permainan tradisional sesungguhnya menyimpan nilai-nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan.

"Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, sportivitas, kejujuran, disiplin, dan gotong royong yang perlu terus diwariskan kepada anak-anak," ujarnya.

Menurut Piet Rusdi, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak menghabiskan waktu. Permainan yang dahulu dimainkan di halaman rumah kini perlahan tergantikan oleh layar telepon genggam. Karena itu, festival seperti ini menjadi upaya menghidupkan kembali ruang bermain yang mempertemukan anak dengan teman, alam, dan budayanya sendiri.

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa permainan tradisional adalah identitas budaya yang harus dijaga. Festival seperti ini menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi penerus," katanya.

Di sela-sela perlombaan, para orang tua dan guru tampak tersenyum menyaksikan anak-anak mereka berlarian tanpa lelah. Banyak yang mengaku teringat masa kecil ketika permainan serupa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, kenangan itu hadir kembali melalui generasi yang berbeda.

Asisten III Setdakab Aceh Besar, Abdullah, S.Sos, menilai festival tersebut menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat kecintaan anak terhadap budaya daerah.

"Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mendukung penuh kegiatan ini karena menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal budaya daerah sejak dini. Kami berharap festival ini dapat menjadi agenda rutin setiap tahun," ungkapnya.

Ia berharap permainan tradisional tidak hanya hadir dalam festival tahunan, tetapi juga kembali menjadi bagian dari aktivitas di sekolah dan lingkungan masyarakat.

"Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama, menghargai teman, dan membangun rasa percaya diri. Nilai-nilai seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam membentuk generasi yang berkarakter," tutup Abdullah.

Menjelang siang, satu per satu perlombaan usai digelar. Lapangan mulai lengang, tetapi jejak kaki anak-anak yang berlarian meninggalkan pesan sederhana: warisan budaya tidak akan hilang selama masih ada generasi yang memainkannya. Di tengah derasnya arus digital, tawa yang lahir dari permainan tradisional menjadi pengingat bahwa budaya tetap hidup ketika terus diwariskan, dimainkan, dan dirayakan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....