Peran Orang Tua Cegah Anak Kecanduan Gawai Dan Media Sosial

  • 29 Jun 2026 16:49 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh –Kemajuan teknologi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Namun, di balik kemudahan tersebut, penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkendali juga menghadirkan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, peran orang tua, sekolah, masyarakat, hingga negara menjadi kunci dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak.

Hal tersebut mengemuka dalam Program Siaran Idola (Indonesia Layak Anak) Programa 2 RRI Banda Aceh, Minggu (28/6/2026), bertajuk "Bahaya Gawai dan Media Sosial Bagi Anak: Peran Orang Tua dan Negara" dengan menghadirkan Sekretaris Rumah Lentera Habibi, Ahmad Safri.

Menurut Ahmad Safri, penggunaan gawai ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, teknologi memudahkan anak memperoleh informasi, belajar, bahkan mengembangkan kreativitas. Namun, di sisi lain, tanpa pendampingan yang tepat, anak berisiko terpapar berbagai konten negatif yang dapat mengganggu perkembangan mental, emosional, dan sosial mereka.

"Anak sekarang lahir di era digital sehingga hampir tidak bisa dipisahkan dari gawai. Yang menjadi persoalan bukan sekadar penggunaan gawainya, tetapi bagaimana orang tua mengarahkan dan mendampingi anak dalam memanfaatkannya secara bijak," ujarnya.

Ia menjelaskan, anak-anak sangat rentan terhadap paparan konten kekerasan, pornografi, penipuan daring, hingga perundungan siber (cyberbullying). Selain itu, media sosial juga dapat membuat anak terlalu bergantung pada validasi berupa jumlah pengikut, tanda suka, maupun komentar sehingga memengaruhi rasa percaya diri dan kesehatan mental mereka.

"Anak bisa merasa rendah diri ketika unggahan mereka tidak mendapat respons seperti yang diharapkan. Bahkan, hujatan di media sosial bisa memberikan tekanan psikologis yang berat karena mereka belum memiliki kematangan emosi," katanya.

Ahmad Safri menambahkan, salah satu tanda anak mulai mengalami kecanduan gawai ialah mudah marah atau tantrum ketika perangkat diambil, berkurangnya interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar, perubahan pola tidur, hingga muncul rasa panik ketika gawai kehabisan baterai atau tidak memiliki akses internet.

Karena itu, ia menilai pendekatan orang tua tidak cukup hanya dengan melarang anak menggunakan gawai. Yang lebih penting adalah membangun komunikasi terbuka, memberikan pemahaman mengenai manfaat dan risiko media digital, serta menyepakati aturan penggunaan gawai bersama anak.

"Orang tua harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita. Jangan sampai ketika anak mengalami masalah di media sosial, mereka justru takut bercerita karena khawatir dimarahi," ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa keteladanan orang tua menjadi faktor yang sangat menentukan. Menurutnya, akan sulit mengajarkan anak membatasi penggunaan gawai jika orang tua sendiri terus-menerus sibuk dengan telepon genggam.

Selain keluarga, Ahmad Safri menilai sekolah memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi digital. Sekolah tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga etika bermedia sosial, keamanan digital, perlindungan data pribadi, serta cara menghadapi perundungan siber secara bijaksana.

Sementara itu, negara dinilai telah menunjukkan komitmen melalui berbagai regulasi perlindungan anak. Namun, ia berharap implementasi kebijakan tersebut terus diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat, peningkatan pengawasan platform digital, serta kolaborasi lintas sektor.

"Regulasi sudah ada, tetapi implementasi dan sosialisasinya harus terus diperkuat. Negara, sekolah, organisasi masyarakat, media, keluarga, dan anak sendiri harus bergerak bersama agar ruang digital benar-benar menjadi tempat yang aman," jelasnya.

Melalui Rumah Lentera Habibi, Ahmad Safri mengatakan pihaknya berupaya menghadirkan berbagai kegiatan alternatif bagi anak, seperti rumah baca, pelatihan literasi, webinar edukasi, pengembangan kesehatan mental anak, hingga berbagai aktivitas positif yang mendorong anak lebih aktif berinteraksi di dunia nyata.

Menurutnya, menyediakan ruang bermain, membaca, dan berkegiatan bersama menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

Menutup dialog, Ahmad Safri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia yang layak anak di era digital.

"Melindungi anak bukan hanya tugas orang tua atau pemerintah. Semua memiliki tanggung jawab, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, media, hingga organisasi sosial. Mari mulai dari diri sendiri dengan menciptakan lingkungan digital yang sehat, santun, dan aman bagi anak-anak," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....