Warga Pulo Aceh Nikmati Bubur Asyura pada 10 Muharram

  • 26 Jun 2026 08:16 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar - Bubur Asyura menjadi hidangan yang selalu hadir setiap memasuki 10 Muharram atau Hari Asyura di Aceh, yang diperingati pada Kamis, 25 Juni 2026. Memasak bubur bersama-sama turut dilakukan di berbagai kecamatan dan Gampong (Desa) di Kabupaten Aceh Besar, termasuk Pulo Aceh.

Bagi masyarakat, momentum ini bukan sekadar peringatan dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun melalui tradisi Toet Apam dan memasak Bubur Asyura.

Di Pulo Aceh, tradisi tersebut masih bertahan kuat. Dari generasi ke generasi, masyarakat menjadikannya sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, sekaligus sedekah kepada sesama. Tradisi Toet Apam bukan sekadar kegiatan memasak kue. Setiap keluarga menyiapkan adonan yang dibuat dari tepung beras, santan, air kelapa, dan sedikit garam. Adonan itu kemudian dimasak menggunakan cetakan atau belanga tanah liat di atas bara kayu bakar.

Proses memasak secara tradisional itu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Apam yang dianggap sempurna adalah yang memiliki pori-pori halus di permukaannya, tanda adonan matang dengan baik. Setelah selesai, apam disajikan bersama kuah tuhe, kolak santan manis berisi potongan pisang dan nangka, atau cukup ditaburi kelapa parut.

Camat Pulo Aceh, Jamaluddin mengatakan tradisi Toet Apam tahun ini berlangsung meriah, baik di Pulo Breuh maupun Pulo Nasi. Antusiasme masyarakat dinilai semakin meningkat seiring adanya ajakan dari Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, agar seluruh gampong terus menghidupkan tradisi tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya daerah. Menurutnya, pelaksanaan tradisi bukan hanya mempertahankan kuliner warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.

Adapun di tengah derasnya arus modernisasi, ketika makanan cepat saji semakin mudah ditemukan dan budaya luar begitu cepat masuk, masyarakat Pulo Aceh memilih tetap setia menjaga warisan yang mereka terima dari para pendahulu.

“Toet Apam dan Bubur Asyura mengajarkan bahwa sebuah tradisi bukan sekadar tentang makanan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, tentang sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, dan tentang identitas masyarakat Aceh yang terus hidup di setiap generasi," ungkap Jamaluddin.

Seperti di Gampong Pasie Janeng dan Lamteng, Pulo Nasi, warga sejak pagi telah berkumpul untuk memperingati 10 Muharram (Hari Asyura) dengan kegiatan Toet Apam dan Bubur Asyura. Selama asap tungku kayu bakar masih mengepul di halaman rumah-rumah warga dan sendok pengaduk Bubur Asyura masih bergantian dipegang oleh masyarakat, selama itu pula denyut kebudayaan Aceh akan terus hidup, yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu cita rasa yang tak lekang oleh waktu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....