Mengenal Tengku Chik Lampaloh, Ulama Tafsir Aceh Keturunan Mataram
- 15 Mei 2026 15:48 WIB
- Banda Aceh
Poin Utama
- Jejak Ulama Aceh
- Tengku Chik Lampaloh
- Aplikasi radio RRI Digital
RRI.CO.ID, Banda Aceh- Nama Tengku Chik Lampaloh masih dikenang sebagai salah satu ulama besar Aceh yang memiliki kedalaman ilmu tafsir Al-Qur’an. Sosok yang bernama asli Tengku Syeikh Abdul Rahman itu disebut berasal dari keturunan bangsawan Mataram, Pulau Jawa, sebelum akhirnya menetap dan mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam di Aceh.
Tidak diketahui secara pasti kapan Tengku Chik Lampaloh tiba di Aceh. Namun, dalam buku 55 Ulama Kharismati Aceh karya Dr. Nurkhalis Mukhtar yang disampaikan penulisnya langsung melalui program siaran “55 Ulama Kharismatik Aceh” dan RRI Banda Aceh distribusikan di aplikasi RRI Digital, beliau diperkirakan datang pada awal 1800-an atau jauh sebelum pecah Perang Aceh melawan Belanda. Sebelum menetap di Aceh, beliau lebih dahulu menimba ilmu di Makkah hingga dikenal sebagai seorang ulama yang alim dan disegani.
Disebutkan, situasi yang terjadi di Kerajaan Mataram menjadi salah satu alasan keberangkatan beliau ke Tanah Suci. Di Makkah, Tengku Chik Lampaloh memperdalam berbagai cabang ilmu agama hingga akhirnya memilih Aceh sebagai tempat mengajarkan ilmu dan membina masyarakat. Saat itu, Aceh masih menjadi pusat perkembangan pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama besar dengan bidang keahlian masing-masing.
Jika ada ulama yang dikenal ahli pengobatan, sastra syair, manuskrip kitab, atau ilmu mantik, maka Tengku Chik Lampaloh dikenal luas sebagai ahli tafsir Al-Qur’an. Kepakaran itu membuat namanya masyhur di tengah masyarakat Aceh, terutama setelah wafatnya Syekh Abdurrauf As Singkili yang dikenal melalui karya tafsir Tarjuman al-Mustafid.
Dalam sejarah Islam Nusantara, Syekh Abdurrauf As Singkili dikenal sebagai salah satu ulama tafsir paling awal di Asia Tenggara. Setelah era beliau, tidak banyak ulama yang memiliki kemampuan mendalam dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Kehadiran Tengku Chik Lampaloh kemudian menjadi penting karena beliau mampu melanjutkan tradisi keilmuan tersebut di Aceh.
Tengku Chik Lampaloh disebut menguasai berbagai kitab tafsir klasik, seperti Tafsir Al-Baidhawi, Jalalain, Ash-Shawi, hingga Tafsir Khazin. Beliau juga dikenal memahami ilmu qiraat dan cabang-cabang ilmu Al-Qur’an lainnya. Kemampuannya menjelaskan makna ayat secara rinci membuat pengajian beliau ramai didatangi masyarakat.
Pengaruh keilmuannya yang besar bahkan tercatat dalam dokumen kolonial Belanda. Pada masa Perang Aceh, ruang gerak Tengku Chik Lampaloh disebut sempat dibatasi karena dianggap memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat. Saat konflik memanas, beliau bersama keluarga mengungsi ke wilayah Indrapuri.
Namun setelah situasi mereda, Tengku Chik Lampaloh kembali ke Lampaloh untuk menghidupkan lagi pengajian yang sempat terhenti. Di tengah kondisi sosial yang belum sepenuhnya stabil, beliau memilih melanjutkan perjuangan melalui pendidikan dan dakwah intelektual kepada masyarakat.
Kehormatan terhadap Tengku Chik Lampaloh tidak hanya datang dari masyarakat Aceh. Banyak warga Mataram dari Pulau Jawa datang bersilaturahmi kepada beliau karena dianggap sebagai keturunan bangsawan sekaligus ulama besar. Dalam penuturan keturunannya, masyarakat Mataram bahkan memberi penghormatan tinggi kepada beliau sebagaimana penghormatan kepada keluarga kerajaan.
Selain dikenal sebagai ulama alim, Tengku Chik Lampaloh juga disebut memiliki mushaf Al-Qur’an tulisan tangan yang dipenuhi catatan tafsir dan penjelasan makna ayat. Catatan-catatan itu menjadi penanda keluasan ilmu yang beliau miliki dalam memahami Al-Qur’an.
Setelah wafat, Tengku Chik Lampaloh dimakamkan di kawasan Batoh, Banda Aceh. Hingga kini, makam beliau masih sering diziarahi masyarakat dari berbagai daerah, termasuk peziarah dari Pulau Jawa yang datang untuk mengenang ulama besar tersebut.
Kisah tentang Tengku Chik Lampaloh ini merupakan salah satu episode program “55 Ulama Kharismatik Aceh” karya Dr. Nurkhalis Mukhtar yang disiarkan RRI Banda Aceh. Masyarakat dapat mendengarkan kembali program tersebut melalui aplikasi RRI Digital yang menyediakan layanan siaran langsung maupun arsip program radio secara digital. (*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....