Meminta Bantuan Profesional Bukan Tanda Kelemahan

  • 04 Okt 2026 03:47 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Meminta bantuan kepada tenaga profesional ketika mengalami persoalan kesehatan mental merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan seseorang. Hal tersebut disampaikan Wulansari dalam dialog bersama Pro 2 RRI Banda Aceh pada Kamis, 1 Oktober 2026 yang membahas pentingnya merawat raga dan menjaga jiwa.

Wulansari menilai, persoalan kesehatan mental tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan anggapan bahwa seseorang kurang bersyukur atau kurang menjalankan ibadah. Menurutnya, ketika kondisi jiwa sedang tidak baik, seseorang memiliki hak untuk mencari bantuan dari pihak yang memiliki kompetensi untuk mendampingi persoalan tersebut.

“Kalau misalnya ternyata jiwa kita, hati kita yang sedang tidak baik-baik saja, masa enggak boleh sih kita ketemu sama psikolog, misalnya profesional, atau orang-orang yang memang bergerak di bidang situ, konselor atau apa,” ujarnya. Ia mengatakan, dalam perspektif Islam, mencari bantuan profesional dapat menjadi bagian dari ikhtiar ketika seseorang sedang menghadapi persoalan dalam dirinya.

Ia juga meminta masyarakat agar tidak memberikan label negatif kepada orang yang sedang membutuhkan pertolongan psikologis. Menurutnya, kalimat seperti “kurang iman” atau “kurang bersyukur” justru dapat membuat seseorang semakin sulit terbuka terhadap kondisi yang sedang dialaminya.

“Jangan takut dibilang gila, kurang ibadah, atau kurang iman, ataupun kamu kurang bersyukur, itu kan label-label yang orang kasih,” kata Wulansari. Ia menambahkan, lingkungan terdekat seharusnya memberikan dukungan dan menghindari sikap menghakimi ketika mengetahui seseorang sedang mengalami masa sulit.

Menurut Wulansari, langkah awal yang dapat dilakukan seseorang adalah mengakui kondisi dirinya dan berhenti menyangkal perasaan yang sedang muncul. “Enggak apa-apa loh, enggak baik-baik saja itu enggak apa-apa, jadi it's okay to not be okay,” tuturnya.

Setelah mampu menerima kondisi tersebut, seseorang dapat mulai membangun batasan yang sehat, mencari dukungan dari orang yang dipercaya, serta berbicara dengan profesional apabila diperlukan. Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan jeda dari rutinitas yang menguras energi, termasuk mengambil waktu istirahat ketika tubuh maupun pikiran sudah membutuhkan ruang.

Menjaga kesehatan mental, lanjut Wulansari, perlu dimulai dari langkah sederhana dengan mengenali kebutuhan dan sinyal yang diberikan tubuh maupun jiwa. “Merawat raga dan menjaga jiwa itu bukan sebuah kemewahan, tapi bentuk tanggung jawab, bentuk rasa syukur kita atas kehidupan yang sudah Allah kasih,” pungkasnya, seraya mengingatkan bahwa meminta bantuan ketika membutuhkan merupakan bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....