Video Potongan dan Hoax Berpotensi Dosa Jariyah

  • 04 Okt 2026 03:46 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Masyarakat diingatkan tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan video potongan yang beredar di media sosial sebelum memahami konteks secara utuh. Informasi yang benar secara potongan belum tentu menghasilkan pemahaman yang benar ketika konteksnya telah berubah.

Penyuluh Agama Islam Kota Banda Aceh, Ustaz Sahrial, dalam Dialog Kajian Islami RRI Banda Aceh, Jumat 2 Oktober 2026, mengatakan pengguna media sosial perlu memastikan sumber informasi sebelum memberikan komentar atau membagikannya. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah penyebaran informasi yang dapat menimbulkan fitnah, kebencian maupun kerugian bagi pihak lain.

"Yang pertama kita harus tahu dulu sumbernya itu jelas ataupun dapat dipercaya enggak," ujar Ustaz Sahrial. Ia mengatakan pengguna juga harus melihat konteks informasi untuk memastikan apakah video atau gambar telah mengalami pemotongan yang menyebabkan perubahan makna.

Menurutnya, persoalan sering muncul ketika masyarakat hanya melihat judul atau potongan pendek sebuah video tanpa menyaksikan penjelasan secara keseluruhan. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan yang berbeda dari maksud sebenarnya.

Ustaz Sahrial mencontohkan adanya video potongan mengenai pernyataan seorang ulama yang kemudian mendapat komentar negatif dari pengguna media sosial. Menurutnya, video tersebut sebelumnya memiliki penjelasan yang lebih panjang, tetapi potongan yang beredar membuat sebagian orang memahami isi pernyataan secara berbeda.

"Kalau memang manfaatnya bagus maka silakan di-share, tapi kalau tidak manfaat yang meragukan, maka sebaiknya kita menahan," katanya. Ia menegaskan bahwa keinginan untuk tidak tertinggal informasi tidak seharusnya membuat masyarakat mengabaikan proses memeriksa kebenaran sebuah konten.

Selain memeriksa sumber dan konteks, masyarakat juga diminta mempertimbangkan dampak dari informasi yang akan disebarkan. Ustaz Sahrial mengatakan pengguna perlu bertanya apakah konten tersebut dapat mempermalukan, memfitnah atau merugikan seseorang sebelum membagikannya.

Ia menilai kebebasan berpendapat di media sosial tetap perlu disertai tanggung jawab. Informasi yang tidak jelas dan berpotensi menimbulkan dampak buruk sebaiknya tidak diteruskan meskipun sedang menjadi perhatian banyak pengguna.

Dalam dialog tersebut, seorang pendengar, Cut dari Montasik, juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kebiasaan sebagian pengguna menyebarkan berita yang tidak benar dan dapat mempermalukan orang lain. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab Ustaz Sahrial dengan mengingatkan pentingnya menjaga rasa malu dan keimanan ketika menggunakan media sosial.

Ustaz Sahrial mengatakan seseorang tetap dapat melakukan perbuatan yang merugikan meskipun tidak bertatap muka dengan orang lain. Menurutnya, menyebarkan aib, fitnah, pornografi maupun ajakan kepada keburukan melalui media sosial tetap memiliki konsekuensi moral dan keagamaan.

Ia menjelaskan konsep dosa jariah dalam konteks digital dapat terjadi ketika konten buruk yang dibuat atau dibagikan seseorang kemudian ditonton, diunduh, dibagikan ulang atau diikuti oleh orang lain. "Kalau dosa jariah ini kalau ada orang yang tertarik dengan informasi yang disampaikan melalui platform media sosial, lalu dia tertarik kemudian dia berkeinginan untuk menumpahkan hawa nafsunya, maka dosa itu juga akan mengalir kepada orang yang menggugahnya tadi," jelasnya.

Karena itu, Ustaz Sahrial mengajak pengguna media sosial membangun kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi. Menurutnya, sikap menahan diri justru dapat mencegah seseorang menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang keliru atau merugikan.

Ia juga memberikan langkah bagi masyarakat yang terlanjur membagikan informasi salah dan kemudian mengetahui adanya klarifikasi. "Yang sudah kita share itu ya kita hapus, kita delete saja agar kita tidak bertambah dosa kita," ujarnya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan memperoleh informasi perlu diimbangi dengan ketelitian dalam mengolahnya. Di tengah derasnya arus konten digital, kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks dan mempertimbangkan dampak menjadi bagian penting dari tanggung jawab setiap pengguna media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....