Dari Pasien Kritis hingga Meja Operasi, Cerita Edi Darmawan jadi Dokter Anestesi

  • 08 Sep 2026 13:39 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Bagi sebagian masyarakat, dokter anestesi mungkin masih identik dengan satu hal, yakni memberikan obat bius sebelum operasi. Namun bagi dr. Edi Darmawan, SpAn-TI, FCC, profesi tersebut ternyata membawa dirinya pada dunia pelayanan medis yang jauh lebih luas.

Dokter Ahli Anestesi dan Intensive Care RSUZA sekaligus Pengurus Perdatin Aceh itu mengaku, selama menjalani pendidikan hingga menjadi dokter spesialis, ia semakin memahami bahwa anestesi bukan hanya tentang membuat pasien tertidur.

Pengalaman tersebut ia bagikan dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh melalui program Banda Aceh Menyapa, Senin 7 September 2026, dengan tema “Peran Dokter Anestesi dalam Pelayanan Kesehatan”.

Edi bercerita, dalam pelayanan di rumah sakit, pertemuannya dengan pasien dapat terjadi sejak pasien berada dalam kondisi kritis hingga menjalani operasi dan masa pemulihan.

Ketika pasien datang ke rumah sakit, salah satu hal penting yang dilakukan adalah melihat kondisi pasien. Pasien yang kritis membutuhkan penanganan dan stabilisasi, termasuk keterlibatan dokter anestesi.

Jika kondisi kritis masih berlanjut dan membutuhkan pemantauan intensif, pasien akan dirawat di ICU. Di ruang inilah, dokter anestesi kembali memainkan perannya.

Namun perjalanan seorang dokter anestesi tidak berhenti di ruang ICU.

Ketika seorang pasien harus menjalani operasi, dokter anestesi sudah terlibat bahkan sebelum tindakan dimulai. Ada kunjungan praanestesi untuk melihat kondisi pasien, memperkirakan risiko, menentukan obat serta teknik anestesi yang sesuai.

Setelah itu, dokter anestesi berada di kamar operasi untuk memastikan pasien tetap dalam kondisi aman selama tindakan berlangsung.

Di tengah proses operasi, ada hal yang menjadi perhatian utama: bukan hanya apakah pasien tidak merasakan sakit, tetapi bagaimana organ-organ vital pasien tetap bekerja dengan baik.

Tekanan darah, pernapasan dan kondisi hemodinamik pasien harus terus diperhatikan.

“Dokter anestesi di sini berperan untuk menjaga organ-organ vital tetap berjalan sempurna dengan meminimalisir komplikasi yang muncul akibat dari pembedahan,” kata Edi.

Bagi Edi, hal tersebut menunjukkan bahwa dokter anestesi tidak bekerja sendirian. Keberhasilan operasi merupakan hasil kerja tim antara dokter anestesi, dokter bedah dan tenaga kesehatan lainnya.

Tak Hanya di Kamar Operasi

Salah satu pengalaman yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat adalah keterlibatan dokter anestesi dalam pemeriksaan seperti CT scan dan MRI.

Edi menjelaskan, ada pasien yang tidak mampu bertahan tenang selama pemeriksaan. Kondisi tersebut bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa yang mengalami kecemasan.

Dalam kondisi tertentu, dokter anestesi memberikan pendampingan agar pasien lebih rileks sehingga pemeriksaan dapat berlangsung dengan baik.

“Kalau pasien dalam kondisi cemas, hasilnya tidak akan bagus,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Edi melihat profesinya dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang tugas dokter anestesi bukan hanya menghadapi pasien yang akan menjalani operasi, tetapi juga membantu seseorang melewati rasa takut ketika harus menjalani sebuah prosedur medis.

Peran serupa juga dijalankan ketika pasien menjalani tindakan di luar kamar operasi, seperti bronkoskopi oleh dokter paru maupun endoskopi oleh dokter penyakit dalam yang dalam kondisi tertentu membutuhkan anestesi.

Ada Pasien, Ada Risiko yang Harus Diperhitungkan

Setiap pasien juga memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, menurut Edi, pemberian obat anestesi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama kepada setiap orang.

Sebelum tindakan dilakukan, dokter anestesi terlebih dahulu melakukan kunjungan praanestesi. Dari proses tersebut, dokter menilai berbagai risiko yang mungkin muncul dan menentukan obat serta teknik anestesi yang paling sesuai.

Bahkan, keputusan dokter anestesi tidak berhenti pada menentukan jenis obat atau teknik pembiusan.

Dokter juga harus mempertimbangkan kondisi pasien setelah operasi. Apakah cukup dirawat di ruang biasa atau membutuhkan pemantauan lebih ketat di ruang intensif.

Dari pengalaman itulah Edi melihat bahwa dokter anestesi memiliki tanggung jawab besar dalam setiap tahapan pelayanan pasien.

Di balik pasien yang kemudian tertidur di meja operasi, ada proses panjang yang dilakukan dokter anestesi untuk memastikan pasien tetap aman.

Dan ketika pasien membuka mata kembali setelah operasi, pekerjaan dokter anestesi belum tentu selesai. Kondisi pasien masih harus dipastikan stabil sebelum melanjutkan proses pemulihan.

Bagi Edi, di situlah menariknya profesi yang selama ini kerap hanya dikenal sebagai “dokter pembius”. Dia menyebutkan, Dokter anestesi bukan sekadar membuat pasien tidak sadar, tetapi memastikan pasien tetap aman ketika berada dalam kondisi paling rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....