Minat Baca Perempuan Banda Aceh Meningkat di Tengah Era Digital

  • 08 Sep 2026 09:01 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Minat baca perempuan di Kota Banda Aceh menunjukkan peningkatan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kunjungan perempuan dan anak-anak ke perpustakaan juga mendominasi dibandingkan kelompok lainnya.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh, Syukriah, SKM., MKM mengatakan perkembangan tersebut terlihat secara dinamis. Kelompok perempuan, pelajar, dan mahasiswa menjadi pengunjung yang cukup aktif memanfaatkan layanan perpustakaan.

Syukriah menyampaikan hal itu dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh, Senin, 7 September 2026. Menurutnya, program wisata literasi turut mendorong kunjungan anak-anak sekolah ke perpustakaan.

Namun, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan terhadap kebiasaan membaca masyarakat. Banyak perempuan dan remaja lebih memilih menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial.

“Teknologi digital sangat menarik, tetapi ada perbedaan sensasi dan kualitas antara membaca digital dengan buku,” katanya. Ia menilai interaksi langsung dengan buku memberikan pengalaman membaca yang lebih bermakna.

Syukriah menyebut terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi rendahnya minat baca sebagian masyarakat. Faktor tersebut meliputi persaingan waktu dengan gawai, keterbatasan bahan bacaan, dan lingkungan literasi.

Penggunaan gawai dinilai menawarkan akses informasi secara cepat dan praktis bagi masyarakat. Sementara membaca buku membutuhkan waktu lebih lama dan konsentrasi yang lebih besar.

Selain itu, ketersediaan bahan bacaan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan minat masyarakat. Perpustakaan Banda Aceh menyediakan berbagai buku pemberdayaan, termasuk bahan bacaan untuk pengembangan usaha.

Buku-buku tersebut juga didukung melalui program perpustakaan berbasis pemberdayaan masyarakat di tingkat gampong. Masyarakat diharapkan tidak hanya membaca, tetapi mampu menerapkan pengetahuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Faktor lingkungan juga menjadi perhatian dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Kebiasaan berdiskusi setelah membaca dinilai penting untuk memperkuat pemahaman dan manfaat bacaan.

“Setelah membaca, perlu ada diskusi agar pembaca memahami poin yang bisa diterapkan sehari-hari,” ujarnya. Syukriah berharap budaya membaca dan berdiskusi semakin berkembang di lingkungan keluarga maupun sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....