Dibalik Jubah Akademik, Ada Perempuan Albino yang Menggugat Batas
- 17 Mei 2026 16:19 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO.ID, Banda Aceh — Di balik toga wisuda dan podium seminar, ada kisah yang jarang terlihat. Kulitnya putih pucat, rambutnya pirang keperakan, dan matanya sensitif terhadap cahaya. Ia perempuan dengan albinisme, tapi yang membuatnya dikenal bukan kondisi genetiknya, melainkan kerja-kerjanya di dunia pendidikan dan aktivisme disabilitas. Orang sering lihat saya dulu. Baru dengar apa yang saya katakan, hal tersebut disampaikan Ery Wati M.Pd, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Aceh, saat diwawancara RRI , Minggu 17 Mei 2026
Menurut Ery Wati, perempuan yang ia dampingi selama beberapa tahun terakhir itu tumbuh dengan dua tantangan sekaligus: stigma terhadap penyandang disabilitas dan kesalahpahaman publik tentang albinisme. Di Aceh, banyak yang menganggap albinisme sebagai kutukan atau penyakit menular. Akibatnya, sejak kecil ia sering dijauhi, dibully di sekolah, dan dipandang tidak mampu.
“Padahal secara intelektual tidak ada masalah. Yang bermasalah itu akses dan prasangka kita,” kata Ery Wati.
Kisah berubah ketika ia memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi. Dengan bantuan alat bantu visual dan pendampingan dari Pertuni Aceh, ia menyelesaikan studi S1 dan kini aktif mengajar di beberapa pelatihan literasi inklusif. Jubah akademisi yang ia kenakan saat wisuda menjadi simbol perlawanan kecil terhadap narasi ‘tidak mampu’ yang melekat padanya.
Ery Wati menyebut, tantangan terbesar bukan di ruang kuliah, tapi di luar kampus. Pencahayaan yang terlalu terang, bahan ajar yang tidak ramah low vision, dan transportasi publik yang tidak aksesibel sering kali menjadi penghalang.
“Kita bicara inklusi, tapi infrastruktur dan mindset belum nyampai. Dia membuktikan bahwa kalau diberi ruang, penyandang disabilitas bisa berkontribusi sama seperti yang lain,” ujarnya.
Selain mengajar, perempuan ini aktif mengkampanyekan hak-hak penyandang disabilitas, khususnya perempuan dengan albinisme. Ia menggunakan media sosial untuk membagikan edukasi singkat tentang albinisme, bahaya stigma, dan pentingnya perlindungan kulit dari sinar matahari.
“Dia ingin orang tahu: albinisme itu kondisi genetik, bukan aib. Dan perempuan albino juga berhak bermimpi jadi dosen, aktivis, ibu, apapun,” tuturnya
Kampanyenya mulai mendapat perhatian dari komunitas disabilitas dan beberapa lembaga pendidikan di Aceh. Beberapa sekolah mulai mengundang ia untuk berbagi cerita di program sekolah inklusi.
Ery Wati berharap kisah ini bisa mengubah cara pandang masyarakat. Baginya, jubah akademisi bukan sekadar pakaian seremonial. Itu bukti bahwa ruang publik bisa dimasuki siapa saja, asalkan ada kemauan dan dukungan sistem.
“Jangan tanya apa yang tidak bisa dilakukan penyandang disabilitas. Tanya apa yang sudah kita halangi dari mereka,” tutup Ery Wati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....