Udang Windu atau Penaeus Monodon Masih jadi Komoditas Unggulan Aceh Timur.

  • 09 Mei 2026 16:13 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Adrian Damora, S.Pi, M.Si, Dlosen FKP Universitas Syiah Kuala selalu pengamat perikanan budidaya, menilai udang windu atau Penaeus monodon masih jadi komoditas unggulan Aceh Timur. Namun, keberlanjutannya kini diuji oleh penyakit, degradasi tambak, dan fluktuasi harga, Hal tersebut disampaikan saat diwawancara RRI, Sabtu 18 April 2026

Menurutnya Kondisi Produksi Saat Ini, Luas Tambak Tradisional Dominan: Aceh Timur masih mengandalkan tambak tradisional dan semi-intensif. Luasan tambak aktif mencapai ribuan hektar, tersebar di Peureulak, Madat, hingga Julok. Harga Cukup Stabil: Menurut Adrian, harga udang windu ukuran 30-40 ekor per kg masih di kisaran Rp90 ribu-Rp120 ribu di tingkat petambak. Lebih tinggi dibanding vaname, tapi risikonya juga besar, ungkapnya

Ia menambahkan, permintaan Ekspor Ada: Pasar Jepang dan Eropa masih memburu windu karena rasa dan ukuran. Syaratnya kualitas bebas antibiotik dan sistem budidaya ramah lingkungan,tutur Adrian

Adrian menekankan pentingnya benur SPF hasil hatchery bersertifikat. Benur liar masih dipakai karena murah, tapi rawan bawa penyakit WSSV dan EMS. Perbaikan Konstruksi Tambak: Desain tambak dengan caren, saluran masuk-keluar terpisah, dan tandon jadi kunci. Tujuannya memutus siklus patogen dan menjaga kualitas air. Pola Polikultur & Mangrove: Beberapa kelompok di Madat mulai tanam mangrove di pematang dan polikultur windu-bandeng. Hasilnya ekosistem lebih stabil, udang tahan penyakit, ada pendapatan tambahan dari kepiting dan bandeng, ujarnya

Sertifikasi CBIB & ASC: Kelompok petambak didorong mengurus Cara Budidaya Ikan yang Baik. Adrian bilang sertifikasi bukan sekadar formalitas, tapi tiket masuk pasar ekspor premium.

*Penguatan Kelembagaan: Koperasi dan BUMG didorong jadi offtaker. Petambak tidak lagi jual ke tengkulak dengan harga jatuh saat panen raya,* ungkap Adrian

Adrian, menyarankan pendekatan kawasan.

“Tidak bisa satu petambak bagus kalau tetangganya jorok. Harus serentak atur jadwal tanam, istirahat tambak, dan biosekuriti.”tegasnya

Pemkab Aceh Timur bersama akademisi dan penyuluh kini menyusun roadmap revitalisasi tambak windu. Targetnya menaikkan produktivitas dari 200-300 kg/ha jadi 600 kg/ha secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan., tutup Adrian

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....