Inklusi Jadi Indikator Kualitas Pendidikan Nasional

  • 04 Mei 2026 05:35 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pendidikan inklusi dinilai menjadi indikator penting dalam mengukur kualitas pendidikan nasional. Konsep ini menekankan akses dan layanan setara bagi seluruh peserta didik.

Hal tersebut disampaikan Founder Sekolah Inklusi Aceh Flexi School, Esti Wulansari. Ia berbicara dalam Dialog Ruang Disabilitas RRI Banda Aceh, Minggu, 4 Mei 2026.

Esti menjelaskan inklusi tidak sekadar menghadirkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Lebih dari itu, inklusi menuntut kesiapan sistem pendidikan yang ramah keberagaman.

“Indikator kualitas bukan hanya kehadiran fisik anak di kelas, tetapi pada akomodasi yang layak,” ujarnya. Menurutnya, kurikulum dan pendekatan harus menyesuaikan kebutuhan setiap anak.

Ia menilai pendidikan inklusi masih menghadapi tantangan implementasi di lapangan. Salah satunya adalah perubahan pola pikir masyarakat terhadap keberagaman peserta didik.

“Secara regulasi kita sudah maju, tetapi implementasinya masih berproses,” katanya. Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya soal akses.

Esti juga menyoroti kesalahan umum dalam memahami sekolah inklusi. Ia mengatakan inklusi bukan berarti memindahkan konsep sekolah luar biasa ke sekolah umum.

“Inklusi adalah sistem yang memberi kesempatan sama bagi semua anak belajar bersama,” ujarnya. Hal itu termasuk anak dengan kebutuhan khusus maupun anak tipikal.

Menurutnya, sekolah inklusi harus menyediakan kurikulum fleksibel dan pendekatan individual. Lingkungan belajar juga harus empatik dan bebas dari diskriminasi.

Ia menambahkan, pendidikan berbasis inklusi mendorong anak berkembang sesuai potensi uniknya. Pendekatan ini dinilai lebih adil dibanding sistem seragam.

“Jika hanya menerima tanpa metode tepat, itu bukan inklusi, melainkan segregasi dalam kelas,” ucapnya. Ia mengingatkan pentingnya kesiapan tenaga pendidik dan fasilitas.

Esti berharap pendidikan inklusi tidak berhenti pada konsep dan regulasi. Ia mengajak semua pihak membangun sistem pendidikan yang benar-benar menerima perbedaan.

“Inklusi tidak butuh fasilitas untuk dimulai, tetapi keberanian dan kerendahan hati,” katanya. Ia menegaskan setiap anak berhak tumbuh sesuai potensi uniknya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....