Mangrove Lamteh Disiapkan Jadi Destinasi Ekowisata

  • 30 Sep 2026 18:38 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar – Masyarakat Gampong Lamteh, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, terus mendorong pengembangan ekowisata berbasis mangrove sebagai upaya menjaga lingkungan sekaligus membuka potensi wisata lokal.

Keuchik Gampong Lamteh, Mahzar, mengatakan gagasan pengembangan ekowisata mangrove telah dirintis sejak 2024. Pengembangan tersebut mencakup kawasan mangrove, tambak, hingga wilayah pantai yang nantinya diharapkan menjadi destinasi wisata sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat.

Menurut Mahzar, penataan kawasan mulai dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan dukungan dana desa. Pada 2025, pemerintah gampong membangun jembatan sementara untuk mendukung akses menuju kawasan tersebut. Infrastruktur itu kemudian mendapat dukungan dari pihak Kodim, sementara penanaman mangrove dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Aceh.

Mahzar menyebut pemerintah gampong juga telah menyusun penataan kawasan dengan membedakan lokasi mangrove, tambak, dan area yang diproyeksikan sebagai kawasan wisata. Ke depan, pihaknya berencana mengembangkan pembibitan mangrove yang tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

“Untuk ke depan kami akan bekerja sama dengan DLHK ataupun yang lainnya untuk masalah bibit pembibitan mangrove untuk diperjualbelikan,” kata Mahzar dalam dialog bersama Pro 4 RRI Banda Aceh, Senin 28 September 2026.

Sementara itu, pegiat budaya Rusdy mengatakan keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir. Menurutnya, kawasan yang memiliki vegetasi mangrove relatif lebih terlindungi ketika terjadi gelombang besar, termasuk saat bencana tsunami.

Keuchik Gampong Lamteh, Mahzar dan pegiat budaya Rusdy saat menjadi narasumber di Pro 4 RRI Banda Aceh (Foto: RRI)

Rusdy menjelaskan mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut yang dapat dimanfaatkan masyarakat, seperti kepiting, kerang, dan ikan. Karena itu, pelestarian mangrove tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Ia menambahkan, kawasan pesisir Peukan Bada sebelum tsunami dikenal memiliki banyak tanaman mangrove. Vegetasi tersebut kemudian mengalami kerusakan parah akibat tsunami, namun upaya rehabilitasi terus dilakukan melalui penanaman kembali dalam proses pemulihan pascabencana.

Menurut Rusdy, masyarakat sekitar saat ini mulai menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian kawasan tersebut. Edukasi dan pembinaan yang dilakukan bersama DLHK Provinsi Aceh juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran warga agar tidak menebang mangrove serta ikut menjaga tanaman yang telah ditanam.

Pengembangan ekowisata mangrove di Lamteh juga dilakukan dengan belajar dari sejumlah daerah lain di Aceh yang telah mengembangkan wisata berbasis mangrove. Mahzar menyebut pihaknya pernah melihat pengelolaan kawasan mangrove di Calang, Aceh Jaya, sebagai salah satu referensi untuk mengembangkan potensi serupa di Lamteh.

Meski luas kawasan mangrove di Lamteh tidak sebesar sejumlah daerah lainnya, pemerintah gampong berharap pengembangan secara bertahap dapat menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata yang menggabungkan pelestarian lingkungan, edukasi, serta aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....