Kearifan Lokal Aceh Penting bagi Kelestarian Lingkungan

  • 16 Sep 2026 23:45 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Kearifan lokal Aceh dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menghadapi risiko bencana. Generasi muda didorong untuk kembali mengenali berbagai pengetahuan dan praktik yang diwariskan masyarakat terdahulu serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Manager Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GNA) Wilayah Pasai, Wahyu Wahidin, dalam Dialog Sie Reuboh Programa 4 RRI Banda Aceh, Senin (14/9/2026), dengan tema “Kearifan Lokal Aceh dan Peran Generasi Muda Menjaga Lingkungan.” Menurut Wahyu, menjaga kearifan lokal berarti mempertahankan warisan yang telah dijaga generasi sebelumnya untuk diteruskan kepada generasi mendatang.

Wahyu mencontohkan keberadaan sejumlah jenis pohon yang dahulu ditanam masyarakat di sekitar daerah aliran sungai. Saat menjadi relawan bencana banjir di Aceh Timur, ia menemukan pohon yang oleh masyarakat setempat disebut pohon gala masih berdiri di tengah kawasan yang terdampak banjir. Ia juga menemukan bahwa pohon tersebut sebelumnya ditanam di sepanjang bantaran sungai dan memiliki fungsi ekologis dalam menjaga lingkungan.

Menurut Wahyu, pengalaman di lokasi bencana menunjukkan pentingnya menjaga ekosistem secara menyeluruh, tidak hanya di kawasan pesisir melalui penanaman mangrove, tetapi juga di hutan dan daerah pegunungan. Ia menyebut kerusakan kawasan resapan, tingginya curah hujan dan perubahan iklim sebagai sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan lingkungan.

Peran generasi muda, kata Wahyu, dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti memilah sampah, menanam pohon, mengembangkan pertanian berkelanjutan dan memberikan edukasi kepada masyarakat. GNA, antara lain, telah melakukan kegiatan berupa pembangunan greenhouse, budidaya maggot, hidroponik, pengelolaan sampah serta edukasi lingkungan kepada anak-anak dan masyarakat di Aceh Utara. Wahyu juga mendorong pembangunan dan kebijakan di Aceh agar mempertimbangkan kondisi lingkungan serta didukung ilmu pengetahuan.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengenalkan kembali kearifan lokal seperti pawang uteun atau pawang glee yang memiliki peran dalam pengelolaan dan pengawasan kawasan hutan, serta panglima laot dalam tata kelola kehidupan masyarakat pesisir. Menurutnya, berbagai sistem tersebut merupakan bagian dari pengetahuan masyarakat Aceh yang perlu dipahami generasi muda.

Wahyu berharap generasi muda Aceh tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi ikut mengambil tindakan sesuai kemampuan masing-masing. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan gerakan besar, melainkan dapat dilakukan dari keluarga, sekolah, komunitas dan lingkungan tempat tinggal. Ia menegaskan, keberlanjutan lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat agar sumber daya alam Aceh tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....