WCD Aceh Ubah Aksi Bersih Menjadi Gerakan Berkelanjutan

  • 16 Sep 2026 23:46 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – World Cleanup Day (WCD) Aceh mendorong kegiatan bersih-bersih tidak berhenti sebagai aksi sesaat, tetapi berkembang menjadi kampanye edukasi dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi serta mengelola sampah secara berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam program CCK (Cek Cerita Kamu) Programa 2 RRI Banda Aceh, Senin 14 September 2026.

Program Manager WCD Aceh, Rista Miranti, mengatakan keterlibatannya dalam gerakan lingkungan membuatnya memahami pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menggunakan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali.

Leader WCD Aceh, M. Luthfi, menjelaskan aksi bersih-bersih yang dilakukan WCD di kawasan Car Free Day (CFD) Banda Aceh diarahkan sebagai sarana edukasi masyarakat. Dari kegiatan tersebut, relawan tidak hanya membersihkan sampah yang berserakan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah. Ia menyebut jumlah sampah yang dikumpulkan dalam sejumlah aksi di area CFD menunjukkan kecenderungan menurun, meskipun jumlah relawan dan kondisi lapangan turut memengaruhi data tersebut.

WCD Aceh juga menyiapkan aksi puncak tingkat provinsi pada 18–20 September 2026 di Aceh Tengah. Kegiatan tersebut mencakup edukasi lingkungan di SMA Negeri 8 Aceh Tengah, penanaman pohon, serta aksi bersih-bersih di kawasan pantai. Setelah aksi puncak, WCD Aceh berencana memperluas kampanye ke sekolah melalui pendampingan menuju sekolah Adiwiyata, pengelolaan sampah berkelanjutan, edukasi bagi guru dan tenaga kependidikan, serta pengembangan konsep sekolah berbasis lingkungan.

Selain sekolah, WCD Aceh membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, UMKM, hingga kafe. Kolaborasi diarahkan pada pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk penerapan penggunaan kembali wadah minuman, pengelolaan sampah di lingkungan usaha, dan kampanye penggunaan tumbler.

Luthfi menegaskan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan lintas sektor karena tidak dapat diselesaikan oleh satu komunitas atau lembaga saja. WCD Aceh menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan sekolah, pemerintah, organisasi, perusahaan, maupun masyarakat dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....