Dari Buku Tumbuh Generasi Kritis dan Berkarakter
- 27 Agt 2026 16:45 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh - Menumbuhkan budaya membaca di kalangan anak-anak menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan di tengah kuatnya penggunaan gawai. Kondisi tersebut mendorong Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 26 Pidie Jaya mengembangkan program One Day Literasi sebagai upaya membangun kebiasaan membaca sekaligus kemampuan memahami, menulis, berbicara, dan berpikir kritis.
Kepala SRT 26 Pidie Jaya, Dewi Juliana, S.Pd., mengatakan program tersebut merupakan salah satu program unggulan sekolah yang dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sepekan, yakni Rabu pagi dan malam Minggu. Pada Rabu pagi, kegiatan literasi berlangsung selama 30 menit dan dikemas dengan berbagai aktivitas agar siswa tidak menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan.
“Bukan hanya membaca tapi juga menulis, mendengar, berbicara, dan berpikir kritis,” ujar Dewi dalam program siaran Beranda Astacita Indonesia Cerdas Programa 1 RRI Banda Aceh, Rabu (26/8/2026).
Menurut Dewi, kegiatan dimulai dengan membaca bersama, dilanjutkan bedah buku, pembahasan kata-kata sulit, serta menulis refleksi. Siswa kemudian diberi kesempatan menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi diarahkan pada pemahaman terhadap isi bacaan dan keberanian menyampaikan kembali informasi.
Pada kegiatan malam Minggu, literasi dikembangkan melalui membaca dan muhadarah dengan pendampingan wali asuh. Guru dan wali asuh berperan mendampingi sekaligus membangun diskusi bersama siswa.
Dewi menjelaskan, program tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap minimnya budaya membaca anak-anak, terutama di tengah penggunaan gawai. Karena itu, sekolah berupaya menjadikan buku sebagai bagian dari keseharian siswa dan membangun generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga kemampuan literasi dan karakter.
Untuk membuat kegiatan lebih terarah, sekolah menetapkan tema bacaan setiap bulan. Tema yang diangkat antara lain pahlawan, lingkungan hidup, dan tokoh inspiratif Pidie Jaya. Pemilihan tema tersebut disesuaikan dengan kehidupan siswa agar bacaan lebih dekat dengan lingkungan mereka sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.
Tantangan terbesar, kata Dewi, adalah mengubah pola pikir siswa yang sebelumnya menganggap membaca sebagai kegiatan membosankan. Namun, melalui kegiatan yang interaktif dan memberikan ruang berekspresi, siswa mulai menunjukkan perubahan. Mereka tidak hanya membaca, tetapi mulai berani tampil di depan kelas untuk menceritakan kembali isi buku.
Bahkan, siswa kini mulai menantikan jadwal literasi. Sebagian siswa membaca buku di asrama dan memanfaatkan pojok-pojok baca yang tersedia di sekolah. Antusiasme tersebut terlihat dari keinginan siswa untuk maju dan menceritakan kembali bacaan mereka.
SRT 26 Pidie Jaya sendiri menerapkan sistem boarding school dengan jenjang SD, SMP, dan SMA. Siswa tidak membawa telepon seluler ke sekolah, sementara kegiatan pembelajaran menggunakan laptop. Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi program literasi untuk dikembangkan melalui buku dan aktivitas membaca secara langsung.
Dari sisi sarana, sekolah telah memiliki Perpustakaan Lentera Ilmu dengan koleksi lebih dari 3.000 judul buku. Sekolah juga terus berupaya menambah koleksi melalui donasi dan kerja sama. Dewi menyebut, Perpusnas juga direncanakan kembali mengirim lebih dari 4.000 buku dalam beberapa waktu ke depan.
Program tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, antara lain Kementerian Sosial, Perpusnas, dan Perpustakaan Daerah Pidie Jaya. Dukungan tersebut antara lain berupa penyediaan dan peminjaman koleksi buku untuk memperkuat kegiatan literasi di sekolah.

Dewi menyebut sejumlah dampak mulai terlihat sejak program berjalan. Kemampuan membaca pemahaman siswa dinilai meningkat. Selain itu, keberanian siswa berbicara di depan umum semakin baik karena mereka terbiasa menyampaikan kembali isi bacaan.
Program tersebut juga mulai membuka kesempatan bagi siswa untuk mengikuti lomba literasi yang diselenggarakan Kementerian Sosial di tingkat nasional. Menurut Dewi, perubahan lain yang terlihat adalah siswa menjadi lebih kritis, memiliki empati, dan lebih gemar bertanya.
Pelaksanaan literasi disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. Untuk siswa sekolah dasar, pendampingan masih dilakukan secara lebih intensif, termasuk bagi siswa yang belum lancar membaca. Sementara siswa jenjang menengah dinilai mulai mampu memahami dan menemukan inti sari dari bacaan yang mereka baca.
Dewi berharap SRT 26 Pidie Jaya dapat berkembang menjadi salah satu pusat literasi di Pidie Jaya. Ia juga berharap gerakan tersebut melahirkan generasi yang haus ilmu, berani bermimpi, dan mampu bersaing.
Bagi sekolah lain yang ingin memulai gerakan serupa, Dewi berpesan agar tidak menunggu kondisi sempurna. Menurutnya, gerakan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana dengan menyediakan waktu membaca bersama selama 30 menit, melibatkan seluruh warga sekolah, dan menjadikan guru sebagai teladan.
“Menumbuhkan budaya literasi itu seperti kita menanam pohon. Butuh waktu dan kesabaran,” kata Dewi.
Pengalaman SRT 26 Pidie Jaya menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak harus dimulai dari program yang kompleks. Konsistensi, pendampingan, ketersediaan bahan bacaan, serta ruang bagi siswa untuk berekspresi menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan membaca dan kemampuan memahami informasi.
Melalui program One Day Literasi, sekolah berupaya menjadikan membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan kebiasaan yang mendorong siswa untuk berpikir, berbicara, bertanya, dan memahami dunia melalui buku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....