Sekolah Inklusif Hadirkan Lingkungan Belajar Ramah Anak

  • 11 Mei 2026 18:41 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Kepala SMP Bunga Matahari Intercultural School Banda Acrh. Nurhayati,S.Pd menyatakan budaya inklusif tidak cukup hanya tertulis dalam visi sekolah, tetapi harus hadir dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah, mulai dari guru, siswa, hingga orang tua.

Hal itu disampaikannya dalam perbincangan bersama RRI Pro 1 Banda Aceh Minggu 10 Mei 2026. Menurutnya, sekolah inklusif adalah ruang belajar yang menerima keberagaman dan memberi kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Nurhayati menceritakan perjalanannya bergabung dengan Sekolah Bunga Matahari sejak 2011. Awalnya ia menjadi asisten guru TK, kemudian mengajar di tingkat SD hingga dipercaya memimpin SMP selama dua tahun terakhir. Ia menyebut sekolah tersebut tumbuh secara bertahap sejak resmi berdiri pada 2009, mulai dari jenjang TK hingga kini memiliki SMA.

Ia menjelaskan, sejak awal sekolah dibangun dengan semangat keberagaman. Awalnya keberagaman yang dimaksud berkaitan dengan latar belakang budaya, agama, dan kewarganegaraan. Namun dalam perkembangannya, sekolah mulai menerima anak-anak dengan kebutuhan belajar berbeda, termasuk anak dengan disleksia, disgrafia, ADHD, autism spectrum disorder (ASD), hingga gangguan neuromuskular.

Menurut Nurhayati, sekolah tidak pernah memasang label sebagai sekolah inklusi. Namun, pendekatan yang terbuka dan fleksibel membuat banyak orang tua merasa diterima. Informasi tentang sekolah berkembang dari mulut ke mulut, termasuk melalui rekomendasi dokter dan psikolog.

“Orang tua datang karena merasa anak mereka didengar, bukan dihakimi,” ujarnya.

Radio Republik Indonesia Programa 1 Banda Aceh melalui siaran “Ruang Disabilitas dan Inklusi” pada Minggu (10/5) mengangkat tema penting tentang membangun budaya sekolah inklusif, dengan menghadirkan Kepala SMP Bunga Matahari Intercultural School, Nurhayati,S.Pd. Foto : RRI/Lis.

Ia menambahkan, pihak sekolah selalu mengedepankan komunikasi terbuka dengan orang tua. Jika ditemukan indikasi kesulitan belajar pada siswa, guru akan mengarahkan orang tua berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga ahli melalui sistem rujukan yang sudah dibangun sekolah.

Dalam kesempatan itu, Nurhayati juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai orang tua anak penyandang disabilitas. Putranya didiagnosis mengalami Duchenne Muscular Dystrophy (DMD), penyakit langka yang menyebabkan otot melemah secara progresif. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya lingkungan sekolah yang menerima dan mendukung anak berkebutuhan khusus.

Ia menilai, salah satu kunci membangun budaya inklusif adalah pembiasaan sejak dini. Di sekolah, siswa diperkenalkan pada kondisi teman-temannya agar memahami perbedaan dan belajar menunjukkan empati. Guru juga membangun suasana kelas yang saling membantu melalui sistem peer teaching atau belajar bersama teman sebaya.

“Anak-anak perlu tahu bahwa setiap orang punya kebutuhan berbeda, tetapi semua tetap punya potensi,” kata Nurhayati.

Menurutnya, budaya inklusif juga terlihat dari hal-hal sederhana, seperti melibatkan siswa berkursi roda dalam pentas seni, memberi kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, hingga membiasakan siswa lain membantu teman yang membutuhkan dukungan.

Nurhayati mengakui masih ada berbagai tantangan dalam membangun sekolah inklusif, terutama keterbatasan fasilitas dan sumber daya untuk menangani seluruh jenis disabilitas. Meski demikian, ia optimistis sekolah-sekolah di Aceh akan semakin terbuka terhadap keberagaman peserta didik.

Ia berharap dalam lima tahun ke depan semakin banyak sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus, baik disabilitas fisik maupun nonfisik, sehingga setiap anak memiliki kesempatan belajar di lingkungan yang aman dan menghargai perbedaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....