Menjaga Laut Indonesia Dimulai dari Edukasi Masyarakat

  • 26 Apr 2026 14:20 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Upaya konservasi dan restorasi ekosistem laut menjadi semakin penting di tengah ancaman degradasi lingkungan pesisir. Hal ini mengemuka dalam program Green Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu 25 April 2026 yang mengangkat tema “Belajar dari Lombok: Konservasi & Restorasi Ekosistem Laut” bersama Marine Conservation Scientist Yayasan SORCE Konservasi Indonesia, Raja Aditya Sahala Siagian,S.Si.,M.Si,.

Dalam dialog tersebut, Raja menjelaskan bahwa Lombok menjadi salah satu wilayah penting karena berada di kawasan Coral Triangle—pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini memiliki biodiversitas terumbu karang dan ekosistem pesisir yang sangat tinggi, sehingga perlu dijaga keberlanjutannya.

Namun, kondisi ekosistem laut di Lombok saat ini tidak sepenuhnya baik. Berdasarkan hasil pemantauan di 44 lokasi, sekitar 40 persen terumbu karang di kawasan konservasi mengalami degradasi. Kerusakan tersebut disebabkan oleh kombinasi faktor alam seperti badai dan perubahan iklim, serta aktivitas manusia seperti pariwisata yang tidak ramah lingkungan, penggunaan jangkar, hingga pencemaran sampah.

Selain itu, degradasi hutan mangrove turut memperparah kondisi laut. Hilangnya mangrove menyebabkan meningkatnya sedimentasi ke laut, sehingga air menjadi keruh dan menghambat proses fotosintesis terumbu karang.

Marine Conservation Scientist Yayasan SORCE Konservasi Indonesia, Raja Aditya Sahala Siagian,S.Si.,M.Si,.dalam program Green Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (25/4). Foto : RRI/Lis.

Sebagai respons, Yayasan SORCE menerapkan metode restorasi berbasis pembibitan atau coral nursery. Teknik ini dilakukan dengan menyelamatkan fragmen karang yang rusak namun masih hidup, kemudian dibudidayakan hingga tumbuh sebelum ditransplantasikan ke media buatan di laut. Metode ini terbukti efektif dengan tingkat keberhasilan mencapai lebih dari 90 persen.

Pendekatan serupa juga diterapkan pada mangrove melalui persemaian sebelum penanaman di area yang terdegradasi. Seluruh proses dilakukan melalui tahapan ilmiah yang ketat, termasuk survei lokasi (site assessment), analisis kondisi perairan, hingga pertimbangan aspek sosial masyarakat setempat.

Raja menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak bisa dilakukan secara sepihak. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama. Di Lombok, nelayan dilibatkan langsung dengan memberikan pekerjaan dalam kegiatan restorasi, seperti pembibitan dan pembuatan struktur buatan. Selain itu, konsep ekowisata juga dikembangkan agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari lingkungan yang lestari.

“Ketika karang pulih, ikan kembali banyak. Nelayan merasakan peningkatan hasil tangkapan, dan kawasan itu juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, masyarakat, hingga akademisi. Model kolaborasi ini dinilai dapat direplikasi di daerah lain, termasuk Aceh.

Menurutnya, Aceh bahkan memiliki keunggulan tersendiri melalui kearifan lokal seperti Panglima Laot, yang dapat menjadi fondasi kuat dalam pengelolaan sumber daya laut berbasis adat.

Di akhir dialog, Raja mengingatkan bahwa langkah sederhana seperti edukasi dan kesadaran masyarakat memiliki dampak besar terhadap kelestarian lingkungan. Ia menegaskan bahwa menjaga ekosistem bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan seluruh elemen masyarakat.

“Lingkungan yang terjaga akan memberikan manfaat jangka panjang bagi semua, baik secara ekologis maupun ekonomi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....