Kemarau Panjang Mengintai, Aceh Antisipasi Dampak El Nino 2026

  • 08 Apr 2026 13:37 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID,Banda Aceh - Pemerintah Aceh bersama pemangku kepentingan terkait menyatakan kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun 2026 yang dipengaruhi fenomena El Nino. Hal ini mengemuka dalam dialog “Banda Aceh Menyapa” yang disiarkan RRI Banda Aceh, Senin (6/4/2026).

Narasumber dari Stasiun Klimatologi Aceh, Moh. Rizal, mengatakan bahwa awal musim kemarau di Aceh diprediksi terjadi secara bertahap mulai Mei hingga Juni 2026. Bahkan, sejumlah wilayah seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang telah lebih dahulu memasuki periode kemarau sejak awal tahun.

“Durasi kemarau tahun ini bervariasi. Di beberapa wilayah bisa berlangsung hingga 10 bulan, meskipun dalam periode tersebut masih berpotensi terjadi hujan sesekali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara klimatologis Aceh memiliki tiga pola hujan berbeda, sehingga dampak kemarau tidak merata di seluruh wilayah. Namun secara umum, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus, dengan penurunan curah hujan mencapai 5 hingga 30 persen.

Sementara itu, akademisi Universitas Syiah Kuala, Dr. Yopi Ilhamsyah, menambahkan bahwa fenomena El Nino tahun ini berpotensi menyebabkan defisit curah hujan yang cukup signifikan, terutama pada puncak musim kemarau.

“Prediksi menunjukkan kekurangan curah hujan bisa mencapai 100 hingga 200 milimeter. Ini berarti hampir setiap bulan kita akan mengalami defisit air, meskipun hujan sporadis tetap mungkin terjadi,” jelasnya.

Moh. RizalPMG Muda / Tim Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Aceh, Dr. Yopi Ilhamsyah,M.Si (Ketua Divisi Hydrometeorological Hazard & climate Change TDMRC USK),Fazli,SKM,M.Kes., (Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBA) dan Nona Evy Maulina,SP,MM (Kasie Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura UPTD BPTPHP), Dalam Dialog Banda Aceh Menyapa Pada Senin (6/4). Foto : RRI/Lis.

Menurutnya, frekuensi El Nino dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat sebagai dampak perubahan iklim global. Kondisi ini menuntut peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sumber daya air, termasuk memanfaatkan air hujan sebagai cadangan.

Dari sektor pertanian, Nona Evy Maulina menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga percepatan masa tanam.

“Kami juga mendorong penggunaan varietas padi tahan kekeringan, optimalisasi irigasi, serta pemanfaatan pompa dan sumur dangkal untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, selama 10 tahun terakhir, dampak kekeringan terhadap gagal panen relatif kecil dibandingkan banjir, yakni sekitar 5 persen. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat padi merupakan komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Di sisi lain, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBA, Fazli, mengungkapkan bahwa potensi kemarau panjang juga berisiko meningkatkan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga awal 2026, tercatat 26 kejadian bencana di Aceh, termasuk karhutla yang telah menghanguskan lebih dari 100 hektare lahan.

“Kami terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk memastikan kesiapan sarana seperti armada pemadam dan mobil tangki air. Namun, kami akui keterbatasan anggaran, terutama untuk mitigasi dan kesiapsiagaan, masih menjadi tantangan,” ujarnya.

Fazli menegaskan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam mencegah bencana, terutama dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Dialog tersebut menegaskan bahwa meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman kemarau panjang dan dampak El Nino di Aceh pada tahun 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....