Dua Dekade Pasca Tsunami, Infrastruktur Banda Aceh Berkembang Pesat

  • 12 Mar 2026 10:36 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Perkembangan pembangunan di Kota Banda Aceh dalam dua dekade terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, khususnya dalam pembangunan infrastruktur pasca tsunami. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Mukhlis, S.E., M.S. selaku Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Mukhlis, S.E., M.S., saat diwawancarai oleh RRI, Rabu 11 Maret 2026.

Menurut Mukhlis, sektor perumahan menjadi salah satu sektor yang paling menonjol dan memberikan dampak besar terhadap percepatan pembangunan kota. Hal ini terlihat dari meningkatnya pembangunan rumah dan kawasan hunian seiring dengan kembalinya masyarakat untuk menetap di Banda Aceh.

“Sektor perumahan kita lihat tumbuh dan berkembang luar biasa sebab banyak masyarakat yang kembali ke Kota Banda Aceh. Mereka membeli dan membangun rumah kembali,” kata Mukhlis.

Ia menjelaskan, berbagai pihak turut berperan dalam membangun infrastruktur yang lebih tangguh terhadap bencana. Pembangunan rumah tahan gempa, sistem mitigasi tsunami, hingga perbaikan sistem drainase menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kota sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Mukhlis menambahkan, pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah kota juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Infrastruktur yang dibangun pemerintah kota telah mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan tentunya sangat mendukung upaya-upaya pertumbuhan ekonomi, dengan melibatkan berbagai pihak dan memilih sektor-sektor infrastruktur yang memiliki pengaruh signifikan,” ujarnya.

Di balik pesatnya pembangunan infrastruktur di Banda Aceh pascatsunami, muncul tantangan baru berupa inflasi di sektor konstruksi. Kenaikan harga bahan bangunan dan jasa konstruksi dinilai berpotensi memengaruhi keberlanjutan pembangunan serta minat investor di daerah.

Menurutnya, inflasi konstruksi merujuk pada kenaikan harga bahan bangunan serta biaya jasa konstruksi yang secara langsung berdampak pada meningkatnya biaya pembangunan berbagai proyek infrastruktur.

Ia menilai apabila kenaikan tersebut terus berlanjut dan tidak dapat dikendalikan, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi minat investor untuk menanamkan modal di sektor infrastruktur di Aceh. Para investor, kata dia, berpotensi menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

“Bila inflasi di bidang konstruksi ini terus naik dan tidak dapat dibendung, maka kemungkinan besar investor akan lebih berhati-hati dalam menanamkan modalnya di sektor infrastruktur di Aceh,” ujarnya.

Mukhlis menambahkan, perlambatan investasi dapat berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi peluang kerja bagi masyarakat apabila proyek pembangunan tidak berjalan optimal.

“Kalau pertumbuhan ekonomi lambat, maka kesempatan kerja juga akan semakin berkurang. Jadi cukup besar dampak inflasi konstruksi di Aceh pada umumnya, dan khususnya di Banda Aceh,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menyebut, pemerintah Indonesia saat ini memiliki program Asta Cita yang salah satu prioritasnya adalah pembangunan infrastruktur nasional. Namun demikian, kebijakan tersebut perlu diimbangi dengan strategi di tingkat daerah untuk mengantisipasi tekanan inflasi di sektor konstruksi agar pembangunan tetap berjalan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita