Sekolah Garuda di Aceh Global Tanpa Lepas Akar
- 04 Feb 2026 21:13 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh :Transformasi sistem pendidikan melalui program Sekolah Garuda mulai dijalankan di Aceh, salah satunya di SMA Negeri 10 Fajar Harapan Banda Aceh. Program ini diharapkan menjadi pintu peningkatan kualitas sumber daya manusia, tanpa meninggalkan nilai religius dan kearifan lokal yang menjadi identitas pendidikan Aceh.
Tim mutu SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Desi Aryani, mengatakan penunjukan sekolahnya sebagai bagian dari transformasi Sekolah Garuda merupakan upaya menyiapkan generasi yang mampu bersaing secara global.
“Sekolah Garuda diharapkan dapat mencetak generasi emas dan menjadi wahana akselerasi peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing secara global, khususnya di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika,” ujar Desi dalam Dialog Banda Aceh Menyapa Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin 2 Februari 2026.
Ia menegaskan, penerapan program tersebut tidak menghapus karakter dasar sekolah maupun nilai lokal Aceh. “Nilai lokal adalah ruh sekolah kami. Siswa tetap dibekali nilai religius, nilai syariah, dan kearifan lokal Aceh. Itu harga mati,” katanya.
Menurutnya, perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya standar ekspektasi guru dalam membimbing siswa, termasuk mempersiapkan mereka menembus perguruan tinggi luar negeri. “Sekarang guru harus mampu menjadi mentor yang memfasilitasi kebutuhan siswa hingga ke level pendaftaran universitas dunia, tanpa meninggalkan pembinaan karakter,” ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Pendidikan Aceh, Herman RN, menilai kehadiran Sekolah Garuda menjadi peluang, namun harus diadaptasi dengan konteks lokal Aceh agar tidak sekadar meniru pola nasional. “Sekolah Garuda itu format nasional, tapi sekolah di Aceh harus punya nilai tambah dari kearifan lokalnya. Jangan sampai semuanya diadopsi bulat-bulat lalu kehilangan ruh Aceh,” kata Herman.
Ia menekankan pentingnya pendidikan berbasis masalah sosial lokal sebagai bagian dari pembelajaran. “Sistem pembelajaran mestinya berbasis masalah sosial yang ada di Aceh. Dari konteks lokal itu kita bawa ke tingkat global. Di situlah nilai jual pendidikan Aceh,” ujarnya.
Herman juga mengingatkan agar Sekolah Garuda tidak hanya berorientasi pada kelulusan ke perguruan tinggi luar negeri. “Pendidikan bukan semata mengejar siswa lulus ke perguruan tinggi global, tetapi bagaimana mereka kembali dan mampu memberi solusi bagi masyarakatnya,” katanya.
Baik Desi maupun Herman sepakat, dukungan pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Aceh menjadi kunci agar transformasi ini berdampak luas dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat identitas pendidikan Aceh di tengah arus globalisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....